MEDIASINERGI.CO
MAKASSAR – Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Makassar (UNM) mengenalkan teknologi Internet of Things (IoT) kepada Karang Taruna DESPAR dan masyarakat Desa Parambambe, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, untuk mengelola sampah secara lebih efektif, transparan, dan bernilai ekonomi melalui Bank Sampah Cerdas.
Teknologi tersebut diterapkan dalam bentuk smart bin yang dilengkapi sistem penimbangan digital, sensor kepenuhan, modul GPS, pencatatan data otomatis, serta dashboard monitoring. Program ini digarap Tim PKM Jurusan Teknik Elektronika dan Teknik Otomotif Fakultas Teknik UNM yang melibatkan Mantasia, Muhammad Mahdinul Bahar, dan Hendra Jaya.
Mantasia dari Tim PKM UNM menjelaskan, kegiatan ditujukan kepada 25 anggota aktif Karang Taruna DESPAR berusia 16–30 tahun serta warga desa melalui pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang partisipatif. “Kami ingin pemuda menjadi katalisator perubahan. Selama ini mereka aktif di bidang sosial dan lingkungan, tetapi masih terbatas dalam aktivitas produktif yang sekaligus menjawab persoalan sampah,” ujarnya.
Salah satu inovasi utama adalah sistem Bank Sampah Cerdas berbasis IoT. Perangkat ini memungkinkan pengelola memantau berat sampah melalui load cell, tingkat kepenuhan smart bin lewat sensor ultrasonik, lokasi unit lewat GPS, serta pencatatan poin reward secara real-time melalui dashboard. “Pemantauan real-time memudahkan penjemputan tepat waktu, mencegah penumpukan, dan memberikan insentif poin digital yang bisa ditukar dengan uang elektronik atau barang,” kata Mantasia.
Dorong Partisipasi dan Nilai Ekonomi
Sebelum program berjalan, pengelolaan sampah di desa masih belum berkelanjutan. Banyak warga membuang atau membakar sampah sembarangan, menumpuk di lahan bekas galian batu bata, serta mencemari saluran air dan kawasan pesisir. Rendahnya kesadaran, keterbatasan infrastruktur, dan minimnya pencatatan menjadi penyebab utama.
Dengan sistem baru, masyarakat cukup memilah sampah organik dan anorganik di sumber, lalu menyetorkannya. Sampah ditimbang secara digital, poin otomatis tercatat, dan pengelola mendapat notifikasi ketika bin hampir penuh. “Teknologi ini mengurangi pekerjaan manual sekaligus membuka peluang pendapatan tambahan dari sistem poin dan hasil daur ulang,” tambahnya.
















