Pendidikan memberikan pengaruh besar dalam pembentukan nalar dan spiritual manusia. Manusia memiliki empat potensi yang tersimpan dalam dirinya, meliputi potensi naluriah, indrawi, akal, dan spiritual. Proses pendidikan mampu mengarahkan potensi itu semua agar sesuai dengan tujuan dari sang pencipta. Oleh karena itu, dalam Islam pendidikan memiliki misi yang suci yang bukan hanya membentuk manusia untuk menjadi terampil, melainkan menjadikan manusia yang mampu mengenali dan mendekatkan diri kepada sang khaliq.
Misi suci yang dibawa dalam proses pendidikan tentunya harus dikendalikan oleh insan yang mulia. Mulia yang tidak hanya diukur dari aspek pengetahuan saja, melainkan dalam hal adab pendidik. Karena, hal ini menyangkut terkait dengan proses mentoring manusia menuju ke arah yang suci. Tentunya, keberhasilan dalam mencapai tujuan sakral tersebut ditentukan oleh sang nahkoda. Oleh karena itu, tidak semua manusia mampu dan layak untuk menjadi nahkoda dalam sebuah pendidikan.
Adab Pendidik
Suatu ketika Imam Syafi’i menyampaikan pesan kepada Imam Abdush Shamad yang menjadi guru dari putra Harun Ar-Rasyid, salah satu khalifah masa Dinasti Abbasiyyah. “Hendaknya kamu memperbaiki diri kamu sendiri terlebih dahulu, sebelum beranjak memperbaiki putra khalifah. Sebab, mata mereka akan selalu terikat dengan matamu. Apa yang kamu pandang baik mereka anggap baik, dan apa yang kamu buruk mereka akan anggap buruk”.
Sejenak nasihat yang disampaikan Imam Syafi’i mengingatkan akan pentingnya keteladanan pendidik dalam proses pendidikan. Keberhasilan pesan yang disampaikan kepada murid akan banyak ditentukan oleh perangai sang pendidik. Meskipun secara penguasaan materi sangat mumpuni dan menguasai teori pembelajaran, tetapi pendidik yang tidak memiliki keteladanan suatu hal yang tidak bernilai.
Imam Nawawi dalam kitab Adabul al-alim wa al-mutaallim menjelaskan salah satu adab yang harus melekat pada pendidik memiliki kesadaran bahwa segala gerak, ucapan, dan perilaku senantiasa diawasi oleh Allah. Artinya, pendidik hendaknya senantiasa memperhatikan perilakunya baik di dalam dan luar sekolah. Sebab sifat ilmu yang suci dan mengajarkan adalah kesucian. Inilah yang mungkin selama ini diabaikan oleh sebagian besar pendidik.
Maraknya kasus asusila yang mencemarkan kesucian wajah pendidikan, perlu adanya upaya untuk memulihkan kembali wajah pendidikan di Tanah Air. Salah satunya berkaitan dengan adab yang dimiliki oleh pendidik. Tidak ada keberhasilan dalam proses pendidikan ketika pendidik mengabaikan adabnya.
Upaya untuk menghasilkan generasi hebat tidak bisa terlepas dari peran pendidik dalam proses pendidikan. Semoga kasus asusila tidak terjadi kembali di lembaga pendidikan, sehingga tidak menghilangkan asa generasi muda bangsa untuk mencapai cita-cita.(Ahmad Ramadhan)
















