Home / Jakarta

Jumat, 22 Juli 2022 - 14:19 WIB

Memulihkan Keteladan Pendidik

Pendidikan memberikan pengaruh besar dalam pembentukan nalar dan spiritual manusia. Manusia memiliki empat potensi yang tersimpan dalam dirinya, meliputi potensi naluriah, indrawi, akal, dan spiritual. Proses pendidikan mampu mengarahkan potensi itu semua agar sesuai dengan tujuan dari sang pencipta. Oleh karena itu, dalam Islam pendidikan memiliki misi yang suci yang bukan hanya membentuk manusia untuk menjadi terampil, melainkan menjadikan manusia yang mampu mengenali dan mendekatkan diri kepada sang khaliq.

Misi suci yang dibawa dalam proses pendidikan tentunya harus dikendalikan oleh insan yang mulia. Mulia yang tidak hanya diukur dari aspek pengetahuan saja, melainkan dalam hal adab pendidik. Karena, hal ini menyangkut terkait dengan proses mentoring manusia menuju ke arah yang suci. Tentunya, keberhasilan dalam mencapai tujuan sakral tersebut ditentukan oleh sang nahkoda. Oleh karena itu, tidak semua manusia mampu dan layak untuk menjadi nahkoda dalam sebuah pendidikan.

Baca Juga:  Tutup MagangHub Batch III, Menaker Ajak Peserta Ikuti Sertifikasi Kompetensi untuk Perkuat Daya Saing

Adab Pendidik
Suatu ketika Imam Syafi’i menyampaikan pesan kepada Imam Abdush Shamad yang menjadi guru dari putra Harun Ar-Rasyid, salah satu khalifah masa Dinasti Abbasiyyah. “Hendaknya kamu memperbaiki diri kamu sendiri terlebih dahulu, sebelum beranjak memperbaiki putra khalifah. Sebab, mata mereka akan selalu terikat dengan matamu. Apa yang kamu pandang baik mereka anggap baik, dan apa yang kamu buruk mereka akan anggap buruk”.

Sejenak nasihat yang disampaikan Imam Syafi’i mengingatkan akan pentingnya keteladanan pendidik dalam proses pendidikan. Keberhasilan pesan yang disampaikan kepada murid akan banyak ditentukan oleh perangai sang pendidik. Meskipun secara penguasaan materi sangat mumpuni dan menguasai teori pembelajaran, tetapi pendidik yang tidak memiliki keteladanan suatu hal yang tidak bernilai.

Imam Nawawi dalam kitab Adabul al-alim wa al-mutaallim menjelaskan salah satu adab yang harus melekat pada pendidik memiliki kesadaran bahwa segala gerak, ucapan, dan perilaku senantiasa diawasi oleh Allah. Artinya, pendidik hendaknya senantiasa memperhatikan perilakunya baik di dalam dan luar sekolah. Sebab sifat ilmu yang suci dan mengajarkan adalah kesucian. Inilah yang mungkin selama ini diabaikan oleh sebagian besar pendidik.

Baca Juga:  Perkuat Posisi Tawar Industri Pers, Dewan Pers Matangkan Usulan RUU Hak Cipta Bersama Konstituen

Maraknya kasus asusila yang mencemarkan kesucian wajah pendidikan, perlu adanya upaya untuk memulihkan kembali wajah pendidikan di Tanah Air. Salah satunya berkaitan dengan adab yang dimiliki oleh pendidik. Tidak ada keberhasilan dalam proses pendidikan ketika pendidik mengabaikan adabnya.

Upaya untuk menghasilkan generasi hebat tidak bisa terlepas dari peran pendidik dalam proses pendidikan. Semoga kasus asusila tidak terjadi kembali di lembaga pendidikan, sehingga tidak menghilangkan asa generasi muda bangsa untuk mencapai cita-cita.(Ahmad Ramadhan)

Share :

Baca Juga

Jakarta

Integrasi Data Bea Cukai-Pajak Dinilai Mendesak, BCW: Jangan Berhenti pada Pertukaran Data

Jakarta

Komisi III Setujui 11 Hakim Agung dan 3 Hakim Ad Hoc, Satunya Putra Toraja

Jakarta

Kasad Ajak Dansat Perkuat Kepedulian dan Dukung Program Pemerintah

Jakarta

Daerah Bernafas Lega, Gaji PNS – PPPK Ditransfer Pekan Depan

Jakarta

PWI dan AFPI Perkuat Literasi Pindar, Pers Didorong Jadi Garda Terdepan Edukasi Publik Lawan Pinjol Ilegal

Jakarta

PWI Pusat dan AFPI Gelar Workshop Jurnalistik Bahas Pindar, Inklusi Keuangan, dan Perlindungan Publik

Jakarta

Dimediasi Dasco, PWI Sepakat Cabut Laporan Polisi Terhadap Hotman Paris

Jakarta

Menteri PPPA Hadiri  Peringatan HAN 2026 di Yayasan Sakura Indonesia Al Jamaan Bogor