Menurutnya, kejadian ini sangat mengganggu jalanya pemerintahan, khususnya dalam hal pembinaan karakter dan proses pembentukan generasi muda.
Ia menegaskan bahwa insiden seperti ini harus menjadi perhatian serius, mengingat pemerintah pusat maupun daerah tengah mengusung misi besar dalam mencetak generasi emas Indonesia tahun 2045
“Bagaimana kita mau bina karakter generasi emas yang baik di masa akan datang, sedangkan kondisi sekarang tidak menghargai yang namanya adab, dan budi pekerti,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Appi meminta keterlibatan para tokoh agama di Muhammadiyah agar bersama-sama pemerintah kota dan DPRD menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).
“Muhammadiyah bersama pemerintah kota, memberikan kami masukan, referensi yang baik untuk sama-sama menyelesaikan ini, dan kami Pemkot Makassar, merancang Perda soal LGBT,” katanya.
“Persoalan ini tidak dapat diabaikan, lama-lama akan berkembang lebih besar, jika dibiarkan, maka saatnya kita mencegah saat bibit ini muncul,” imbuh Appi.
Ia menyebutkan, hanya melalui kolaborasi yang kuat dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, Kota Makassar dapat bergerak maju secara bersama-sama.
Sebab pemerintah, menurutnya, tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan elemen masyarakat, termasuk ormas keagamaan seperti Muhammadiyah.
Appi pun meyakini bahwa banyak sekali pemikiran baik dari orang tua yang ada di Muhammadiyah dan bisa memberikan sumbangsih terbaik untuk membangun Kota Makassar ke depan.
“Kami harap Muhammadiyah bersama kami pemerintah mengawal persoalan yang ada sehingga mendapat solusi terbaik,” tutupnya.(jk)
Editor: Manaf Rachman
















