Kala itu kami sama-sama mahasiswa tingkat akhir di Sekolah Tinggi Publisitik, Jakarta (kemudian berganti namanya menjadi IISIP– Institut Ilmu Politik dan Ilmu Sosial, Jakarta).
Kebetulan juga sama-sama diangkat Rektor STP Bapak A.M Hoeta Soehoet menjadi asisten dosen untuk membantu dosen mata kuliah Ilmu Jurnalistik dalam praktik kerja (Latihan Kerja Jurnalistik).
Tugas spesifiknya mendampingi dan mensupervisi latihan/praktik para mahasiswa yang mau meraih gelar Sarjana Muda (BA).
Rumah kontrakan di Kemuning itu jadi saksi bisu “petualangan” kami. Pada seputar tahun 1982 itu,
saya kerja di Majalah BetitaTempo, Alm Bernard Siregar, di Majalah Gadis, Mas Gantyo di Majalah Ekonomi Progres, Mas Ghoffar Ismail, ASN di Direktorat Hak Paten dan Merek Departemen Kehakiman, dan Putu Laxman, aktivis mahasiswa yang rajin dan suka membuat kegiatan seni.
Nyaris setiap malam ada saja
diskusi politik atau masalah apa saja yang sedang jadi perhatian para mahasiswa di rumah kontrakan kami. Sebab, nemang terbilang sering para mahasiswa yang lebih muda mampir ke rumah Kemuning itu. Untuk silaturahim atau mendiskusikan masalah kegiatan kemahasiswaan yang terkadang terkekang oleh aturan rektor.
Termasuk jika di kamous mau ada kegiatan kemahasiswaan atau pemilihan pengurus Senat atau BPM
(Badan Perwakilan Mahasiswa). Bisa jadi, karena di Jalan Kemuning kala itu memang bermukim para aktivis senior mahasiswa STP. Dari ketua umum Senat, pengurus Senat sampai anggota BPM.
Beredar gosip waktu itu yang menyebut-nyebut rumah Kemuning itu adalah markas “caucus” kecil STP- IISIP, yang bisa menyaring dan menggolkan siapa pun mahasiswa yang mau jadi ketua dan pengurus Senat atau BPM STP. He he he.
Masih sama kami ingat juga, kegiatan diskusi di Kemuning sering berlangsung sampai larut malam, sambil makan cemilan, nasi goreng atau mi instan bareng-bareng.
Para mahasiswa senior dan yunior itu seperti sedang sama-sama berikhtiar menghimpun energi untuk mewujudkan mimpi besar mereka menjadi jurnalis profesional atau praktisi media yang berpengaruh di jagat media.
Ingatan pada masa tahun 1980-an kembali terbangunkan saat berbincang- bincang dengan Mas Gantyo.
Tak terasa hampir dua jam kami bercengkerama. Klimaksnya terjadi ketika tiba-tiba Mas Gantyo bangkit dari kursinya. Tanpa berkata sepatah pun. Ia berjalan pelan ke sudut ruangan, dan langsung duduk di depan organ/pianonya. Jari-jarinya kemudian lincah menari-nari di atas tuts.
Melantunkan dentingan sebuah lagu yang cukup kami kenal: You Raise Me Up. Ini lagu rohani amat populer yang dibawakan Josh Groban.
Mas Gantyo melantunaknya dengan begitu indah dan penuh perasaan. Meski tak bisa bernyanyi, nada-nada itu seolah berbicara: tentang ketabahan, harapan, dan syukur. Kami semua terdiam, terharu. Air mata hampir meneteskan, tapi kami tahan dengan senyuman.
Ah, Mas Gantyo…
Sobat yang senantiasa menyenangkan. Keterampilannya lengkap: wartawan ulung, pianis yang berbakat, penulis buku yang produktif dan pencipta lagu yang inovatif.
Yang terakhir ini, memang mengejutkan kami. Sebab diam- diam Mas Gantyo—yang sejak dulu peminat kuat musik keroncong, penyanyi idolanya Sundari Sukotjo—kini aktif juga menciptakan lagu dengan bantuan AI (artificial intelligence).
Dia memanfaatkan aplikasi Suno. Lalu menuliskan lirik-lirik lagu dalam berbagai genre: pop, keroncong, lagu gembira untuk anak-anak, hingga rohani.
Aplikasi Suno kemudian mengolah aransemen musiknya. Total ciptaan Mas Gantyo sekarang sudah mencapai sekitar 80 lagu. Ada dua contoh lagu ciptaannya sempat diperdengarkan pada kami. Lagu yang memikat dan enak didengar.
“AI bantu aransemen, tapi ide dari hati dan pikiran kita,” tulisnya, bangga di papan tulis.
Sekitar dua jam lebih kami bercengkerama, seperti tak ada bahan cerita yang terlewatkan. Mas Gantyo, penyintas kanker yang tangguh. Tak pernah mengeluh.
Ia justru produktif luar biasa. Sebagai penulis, ia telah melahirkan sejumlah buku, termasuk otobiografinya dan pengalaman hidupnya sebagai survivor kanker laring.
Kini, dia sedang menanti cetak buku terbarunya: “Hidup Baru Bersama Kanker.”
Meski bisu, suaranya tetap bergaung lewat tulisan dan musik. Juga mungkin lewat tawa kami. Serta bisa jadi lewat tulisan ini.
Pertemuan kami seakan mengingatkan sebuah pesan: persahabatan sejati tak butuh kata-kata. Cukup hati yang saling paham.
Sampai jumpa lagi, Mas Gantyo dan Mbak Ipung. (***)
















