Keluhan serupa disampaikan orang tua murid. Mereka menangis histeris saat melihat kondisi sekolah anaknya. “Kami tidak mau menunggu ada anak yang ketimpa atap baru pemerintah bergerak. Ini sudah darurat! Nyawa anak-anak kami dipertaruhkan,” tegasnya.
Pasca ambruknya atap, sebanyak ratusan siswa SDN 4 Maroangin kini terancam tidak bisa sekolah. Opsi belajar di teras atau tenda darurat dinilai warga tidak manusiawi dan tidak layak untuk kegiatan belajar.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Enrekang maupun Pemkab Enrekang terkait langkah penanganan. Warga menilai instansi terkait menutup mata terhadap kondisi sekolah di pelosok yang sudah reot.
Mewakili masyarakat, warga menuntut pemerintah pusat dan daerah turun tangan hari ini juga. Mereka meminta bantuan dana darurat renovasi total dari Kemendikdasmen dan Pemprov Sulawesi Selatan. “Jangan ada lagi alasan anggaran. Keselamatan anak adalah hukum tertinggi,” desak warga.
Jika dalam waktu dekat tidak ada tindakan nyata, warga mengancam akan melakukan aksi penyegelan kantor Dinas Pendidikan sebagai bentuk protes. Mereka berharap tragedi ini menjadi peringatan terakhir agar tidak ada korban jiwa di dunia pendidikan Enrekang. (sari)
















