Anak Kandungnya sebagai generasi pertama masih ada sembilan yang hidup dan alhmadulillah masih sehat, yang tertua umur 92 tahun berdomisili di Pare dan yang paling muda berdomisili di Makassar.
Semasa hidupnya dikenal dengan keberanian dan kepahlawan, beliau bergabung dengan pasukan jendrale Arung Matowa Wadjo ke 44 Andi oddang Pero, dan merupakan perwira pilihan yang mendapatkan pangkat sebagai manyoro sekaligus menjadi besannya
Seorang yang taat beragama, yang dibuktikan naik haji pada 5 Agustus 1937 dan merintis pembnagunanan masjid mubarak di Ujunnge, yang tertua di ujunge tahun 1905, dan untuk mengenang beliau masyaratkat ujunge memberi penghormatan dengan salah satu jalan Wa’na mariona Disamping itu beliau saudagar yang handal, kiprahnya sampai ke negara tetangga seperti Malaysia, Singapura (masih daerah Malaysia) Pada tahun 1874 pernah mengunjungi Singapura, bahkan selama 20 tahun pulang pergi ke negara tersebut, mungkin alamarhum putera bugis Makassar yang mengunjungi Singapura waktu itu pulang pergi.
Beliau punya perniagaan sampai Singapura, Johor, dan mempunyai saudara disana sehingga keluarga paleppang banyak dijohor, dan dapat mewariskan ilmu perniagaan ke anak- anaknya.
Beliau dikenal dengan Haji Wa’na Mariona, sebutan ayah dari anak pertamanya yakni Mariona, dan terkadang dipanggil pung Aji Coa sama anak anaknya selain namanya.(*)
















