“Misalnya, saat puasa pada siang hari kita kehausan. Nafsu mengatakan minum saja, tidak ada yang lihat tetapi ruh membantahnya, jangan karena itu membatalkan puasa. Nah itu ruh. Ruh langsung dari Allah. Sementara jiwa melekat di diri kita,” katanya.
Oleh karena itu, siapa yang menang dalam berpuasa maka diibaratkan lahir kembali seperti bayi.
“Kembali ke fitrahnya. Bayi yang baru lahir jiwanya masih bersih, belum terkontaminasi nafsu. Begitulah bersih sebagaimana bayi,” imbuhnya.
Termasuk Ramadhan makin menguatkan nilai-nilai yang beriringan dengan program Pemkot Makassar.
Seperti, program Jagai Anakta. Itu harus terus dijalankan dan berkesinambungan oleh masyarakat terutama kepada orangtua.
“Dalam Islam, Nabi Muhammad SAW menekankan pentingnya peran ibu, sehingga mari bahu membahu terus menerapkan program Jagai’ Anakta,” ujarnya.
Pendidikan tidak cukup dengan keberanian saja, tetapi harus dengan ilmu. Ilmu berguna untuk menerapkan amal saleh.
“Jangan sia-siakan Ramadhan ini. Detik demi detik merupakan upaya mengamalkan amal saleh untuk mengisi Ramadhan yang penuh berkah ini,” pungkasnya.(jk)
















