Selain itu, ia menegaskan sebagai yang pernah melalui peristiwa reformasi tidak ingin tanggal 21 Mei di kelender tanpa perayaan. Tidak ingin hari itu hanya sebatas sejarah yang lewat begitu saja.
Menurutnya, 21 Mei tidak lebih besar dari Hari Kesaktian Pancasila, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan lainnya.
“Aktivis 98 akan memperjuangkan 21 Mei ini menjadi hari libur nasional,” jelas Sawal.
Ia juga menambahkan bahwa, jika aktivis 98 akan terus konsisten memperjuangkan agar konstitusi harga mati, tak ada lagi amandeman. Semangat reformasi yang memberantas korupsi harus terus dikobarkan.
“Salah satu alasan reformasi karena korupsi saat itu mengakar. Kami dari aktivis 98 konsisten memperjuangkan itu,” ungkapnya.
Tak lupa Sawal juga menyampaikan jika para kepala daerah, legislator hari ini harus berterima kasih atas adanya reformasi. Karena reformasi mereka menikmati kebebasan, termasuk bebas dipilih dan memilih.
“Jika tidak ada reformasi, mereka yang hari ini menjabat sebagai kepala daerah belum tentu jadi bupati atau kepala daerah. Mungkin mereka harus menunggu beberapa tahun ke depan lagi,” ucapnya.
Aktivis 98 lainnya, Susuman Halim, menambahkan jika kegiatan ini diprakarsai Ketua DPRD Kota Makassar Rudianto Lallo.
“Pak Rudianto Lallo bekerja keras membagi waktunya dalam mempersiapkan kegiatan ini untuk berjalan sukses,” katanya.
“Kami salut dan bangga kepada Bapak Ketua DPRD Kota Makassar yang menyelenggarkan kegiatan ini. Walaupun tidak terlibat dalam peristiwa 98, namun mereka memiliki perhatian besar kepada tokoh yang berjuang di 98 itu,” pungkasnya.(jk)
Editor: Manaf Rachman
















