“Sebelum diadakan perlombaan kita akan mensosialisasikan terlebih dahulu ke 24 kabupaten/kota bahwa indikator penilaiannya diantaranya ada tiga, yaitu bagaimana desa itu memenuhi ketersediaan pangan, bagaimana upaya pemerintah desa dalam memaksimalkan lahan-lahan pekarangan termasuk lahan tidur yang ada di desanya, kemudian keterjangkauan dan terakhir adalah keamanannya seperti, produk-produk mereka terjaga, disertifikasi, serta produknya memiliki label higienis. Sehingga, pangan yang diproduksi itu adalah betul-betul terbebas dari bahan kimia,” imbuhnya.
Adapun jenis-jenis pangan yang diperlombakan nantinya adalah umbi-umbian, bisa juga jagung, dan termasuk juga pisang.
“Kita berharap agar masyarakat bicara makanan jangan hanya nasi saja tetapi, bagaimana kenyang tanpa nasi. Jadi, kita ajar masyarakat bagaimana ada keanekaragaman (pangan namanya). Pada bulan Februari dan Maret teman-teman di dinas ketahanan pangan nanti, kita dorong untuk terus di lapangan mengedukasi, mendampingi masyarakat, tentu bersama dengan pemerintah desa, kecamatan dan pemerintah kabupaten untuk memanfaatkan lahan-lahan pekarangan mereka,” tutupnya. (r)
Editor: Manaf Rachman
















