Toraja yang terbentuk pada tahun 1957, diawal sejarah pembentukan, didasari oleh keinginan untuk menentukan nasib sendiri, membangun Negeri lepongan bulan sesuai dengan budaya dan kearifan. Agar derap langkah pembangunan di Toraja lebih cepat dan sejajar dengan daerah di Indonesia lainnya, yang telah lebih dahulu maju dan berkembang. Kini telah 65 tahun usia Toraja, faktanya harapan dan cita-cita pendiri toraja masih belum sepenuhnya terujud.
“Apatah lagi, jauh sebelum Indonesia Merdeka, pun disaat perjuangan mempertahankan kemerdekaan bahkan untuk mengisi pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia sampai saat ini Toraja telah memberikan kontribusi yang sangat besar, baik dari kekayaan sumberdaya alam yang selama ini menjadi andalan yaitu Kopi Arabika, begitu juga sumbangan dari kekayaan sumberdaya perkebunan. Toraja, Tersebab itu, adalah patut Toraja mendapatkan keadilan dan keberpihakan yang proporsional demi mempercepat pembangunan dan mengejar ketertinggalan”, jelas Musa Salusu.
Musa menyebut, Toraja saat ini masih memiliki persoalan-persoalan yang kompleks dan mendasar antara lain kemiskinan ekstrim, stunting (kurang gizi), konflik lahan serta masih minimnya pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial (jalan, jembatan, sarana pendidikan, sarana kesehatan dan sanitasi, maupun ketersediaan air bersih), ini semua patut dan harus kita perjuangkan di tingkat nasional.
Saya dengan kerendahan hati, mengajak dan sekaligus memohon restu serta dukungan kita semua untuk bersama memperjuangkan hak dan keadilan rakyat Sulawesi Selatan, agar tujuan pembangunan untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dapat terwujud, SUL- SELmenjadi negeri terbilang, gemilang dan cemerlang, pungkas Musa Salusu. (salmon)
















