“Oleh karena itu, dalam peringatan Hari Jadi Wajo ini, kita mengemas acara bertema sutra, karena kita meyakini bahwa hanya dengan menghormati produk ini dengan cara yang pantas, maka produk ini bisa menempati posisi yang tepat, di tengah gempuran produk tekstil nasional bahkan internasional, yang tidak terhindarkan,” katanya.
Andi Bataralifu juga mengatakan Motif atau corak sutra yang dikenakan oleh Gubernur dan sejumlah undangan pada hari ini, telah didaftarkan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) di Kementerian Hukum dan HAM.
Katanya, pendaftaran KIK ini berlangsung atas partisipasi dari beberapa IKM tenun Kabupaten Wajo yang dikoordinir oleh Asosiasi Silk Solution Center. Di antaranya berasal dari Arni Kurnia, Losari silk, Sumber Sutera, Akil Amin silk, Aminah Akil silk, Adenny silk, Salfa silk, Family silk, dan Sutera Indah.
Semoga dengan pendaftaran motif dalam KIK dapat menjaga kreativitas perajin sutra kita dari pembajakan atau pelanggaran Hak Cipta lainnya oleh pihak yang tidak bertanggung
jawab.
“Semoga dukungan dari berbagai pihak, terutama dari pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, dapat terus menginspirasi, sekaligus menjadi penggerak yang efektif dalam memajukan industri ini. Dalam kondisi ini, sinergitas program Pemkab Wajo dengan program Provinsi, bahkan Nasional, sangat kita perlukan. Bergerak maju untuk lebih cerdas dan lebih giat dalam membangun daerah demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tutupnya.
Sementara itu, Pj Gubernur Sulawesi Selatan, Bahtiar Baharuddin mengatakan, hari ini adalah hari spesial, selain HJW juga dilaksanakan hari Bumi dan Pencanangan Gerakan Peduli Stunting melalui Kampanye Makan Telur setiap hari bagi balita dan ibu hamil.
Bahtiar menyebut Kabupaten Wajo banyak melahirkan cendekiawan dan ulama yang tersebar di seluruh Indonesia dan menjadi teladan.
Menurut Bahtiar, banyak hal yang harus dilakukan untuk mengembalikan kejayaan alam Wajo, 600 tahun yang lalu banyak danau tapi sekarang sudah berkurang.
“Wajo dulu menjadi tempat persinggahan dan banyak dikunjungi orang. Wajo menjadi Jasirah. Dari 514 Kabupaten Kota di Indonesia, Wajo paling banyak Danaunya, mari kita kembalikan ekososistem danau, ” ujarnya.
Bahtiar juga menyebut jika dia dan bupati wajo sudah berkomitmen untuk menjadikan Wajo sebagai Pusat perikanan air tawar.
“Kita akan membangun tempat, pembibitan ikan air tawar. Unagi (Massapi) adalah salah satu ikan yang banyak digemari orang jepang, ” ujarnya. (sab)
Editor: Hamzah
















