Ketua Panitia, Rusdi Embas menegaskan, diskusi ini dirancang sebagai wadah untuk menggali solusi atas tantangan di era digital. “Kami ingin menjawab keresahan banyak pihak terhadap perkembangan teknologi, sekaligus membuka peluang kolaborasi antara media dan AI. Diskusi ini akan menjadi pijakan penting bagi masa depan industri media,” ungkapnya.
Acara ini juga diselingi dengan diskusi yang dipandu oleh moderator, pakar di bidang media dan teknologi, yang siap berbagi wawasan tentang cara terbaik memanfaatkan AI untuk meningkatkan kualitas jurnalistik tanpa kehilangan sentuhan manusia.
Selain itu, diskusi juga membahas langkah-langkah strategis agar media tetap relevan dan kompetitif di tengah derasnya arus teknologi informasi.
Diskusi media tersebut dibuka resmi oleh Ketua JOIN Sulsel Arry Abdy Syalman yang datang secara khusus dari Jakarta untuk menghadiri hajatan ini. Tampak hadir pula Ketua Bidang Organisasi PWI Sulsel Ir. Manaf Rahman, beberapa wartawan senior anggota Dewan Penasihat PWI Sulsel dan sejumlah pimpinan media di Makassar.
Dari diskusi tersebut disimpulkan bahwa, kacerdasan buatan itu tidak akan mematikan kerja-kerja jurnalis, karena jurnalis sejati selalu mengutamakan etika dan rasa dalam penulisan berita, kata Dahlan Abubakar.
Adanya teknologi AI itu sangat membantu jurnalis dalam menjalankan tugasnya, sehingga teknologi AI tak perlu menjadi ancaman bagi para jurnalis tetapi justru sebaliknya jurnalis akan hebat jika mampu berkolaborasi dengan hadirnya teknologi AI.
”Ditengah kemajuan teknologi AI juga dituntut agar para jurnalis bisa memelihara kepercayaan (trust) kepada pembacanya, sehingga teknologi AI tidak akan dapat menggantikan fungsi dan peran wartawan,” ujar Fredrich C. Kuen mengakhiri pemaparannya. (*)
















