Dia mengharapkan, guru diharapkan dapat menjadi agen pembelajaran dan agen peradaban. “Para guru tidak hanya menjadi fasilitator pembelajaran tetapi juga mentor dan konselor para murid, Guru adala orang tua yang senantiasa berada di sisi para murid dalam suka dan duka serta memandu para muridnya mencapai cita-cita luhur,” ujarnya.
Sekadar diketahui, Peringatan Hardiknas tahun 2025 ini juga dirangkaikan dengan peringatan Hari Kartini. Orang nomor Wahid di Bumi Lamaddukkelleng ini mengungkapkan, RA Kartini adalah simbol perjuangan emansipasi perempuan dalam usia muda telah menyalakan api perubahan melalui gagasan cemerlang tentang kesetaraan pendidikan dan kemajuan perempuan Indonesia
“Sangat relevan ketika kedua memon ini kita rangkaikan karena sejatinya perjuangan Kartini adalah perjuangan pendidikan. Perjuangan agar seluruh anak bangsa tanpa memandang jenis kelamin berhak memperoleh pendidikan yang layak dan bermartabat,” pungkasnya.
Rosman mengajak menjadikan Hardiknas dan Hari Kartini bukan hanya perayaan seremonial tetapi sebagai panggilan hati untuk terus belajar, terus bergerak dan terus memberi manfaat. Semangat Kihajar Dewantara dan RA Kartini senantiasa hidup dalam diri dan menginspirasi langkah-langkah kecil menuju indonesia yang cerdas, adil dan beradab.(sab/hms)
Editor: Hamzah
















