“Peran baru kami bukan lagi sekedar pencatat peristiwa tapi penyala cahaya dalam kabut data untuk mendengar suara suara tentang kejujuran”, saya coba kutip kalimat Denny JA seorang wartawan dan penulis kawakan.
Artinya, kami menulis bukan lagi untuk bertahan.Tapi untuk menyalakan cahaya di lorong zaman.
Di tengah canda tawa sambil menyeruput minuman ringan dan bertukar informasi, saya ‘menangkap’ inti reuni. Di lubuk hati sanubari, saya merasa bersyukur.
Ternyata ‘nasib’ yang menimpa kami bukanlah akhir sebuah profesi. Melainkan awal dari cara baru, hidup dari kata kata yang “menyala”, jika memiliki sumber dari penghasilan lain yang ‘subur’ di era ini.
Saya yakin, kami sesama jurnalis konvensional bisa merajut mimpi kolektif di sudut sudut digital dengan kepiawaian dan pengalaman mengarungi dunianya lewat narasi dalam merangkai kosa kata redaksinya.
Diskusi ini mencatat, kami bukan satu satunya korban jika dibanding bergelimpangannya sejumlah pelaku bisnis yang terkapar.
Karena, profesi Jurnalisme yang diarungi selama ini bisa menjelma jadi ‘Networked truth-telling truth”
Maksudnya, kami bisa tetap berkarya dan bekerja dengan cara menyampaikan kebenaran melalui jaringan yang saling terhubung. Bisa juga diartikan, mengungkap kebenaran yang mengacu pada proses penyampaian melalui jaringan platform digital dan jaringan komunikasi lainnya.
Di akhir reuni, kami berdoa semoga mendapat kekuatan, kesempatan dan kesehatan agar mampu ber ‘selancar’ di atas ombak yang mengusir kami dari ‘pabrik’ berita. Kalau tidak, itu bisa berarti, bukan hanya kehilangan profesi tapi kami telah mengalami krisis identitas.
Jurnalisme bukan tak dibutuhkan tapi akan terganti dengan jurnalisme informal. Mungkin begitu. Semoga.(*)
















