Dari Seremoni ke Aksi
Dalam dunia organisasi perempuan, TP PKK sering kali dicap sekadar pelengkap seremoni. Namun Fatmawati memilih jalan berbeda. Ia ingin PKK menjadi penggerak masyarakat akar rumput—membantu ibu-ibu pedagang kecil, mendampingi pengrajin lokal, dan mendorong perempuan muda Wajo untuk tidak takut tampil di ruang publik.
“Itu semua bisa dimulai dari satu hal yang terlihat sederhana: berani bicara. Public speaking itu penting. Tapi lebih penting lagi adalah keberanian menyampaikan ide untuk kebaikan bersama,” katanya.
Fatmawati juga melihat adanya kekuatan kolektif yang bisa tumbuh dari interaksi seperti ini. Ia bertemu dengan sesama Ketua TP PKK dari berbagai provinsi, berdiskusi tanpa sekat. Beberapa langsung tukar kontak. Beberapa bahkan sudah sepakat berkolaborasi untuk pertukaran program pelatihan kader.
Komitmen dan Jalan Panjang
Fatmawati menyadari, perubahan tidak terjadi dalam satu pertemuan. Tapi, menurutnya, semangat yang tumbuh dari pertemuan seperti ini bisa menjadi bahan bakar untuk gerakan jangka panjang. Ia menyebut PKK Kabupaten Wajo siap mengambil peran sebagai mitra strategis pemerintah, terutama dalam isu-isu perempuan dan ekonomi keluarga.
“Kalau perempuan diberdayakan, keluarga akan lebih sejahtera. Dan kalau keluarga kuat, kabupaten ini bisa berdiri lebih tegak,” ujarnya, kali ini dengan suara yang mantap.
Setelah sesi terakhir berakhir sore hari, Fatmawati tidak langsung pulang ke kamar hotel. Ia memilih duduk di lobi, mencatat poin-poin penting dari pelatihan tadi, sambil sesekali berdiskusi dengan pengurus lainnya. Di luar, matahari mulai turun ke ufuk barat. Tapi bagi Fatmawati, langkah baru justru akan segera dimulai: membumikan ilmu yang baru didapat, dari aula Munas ke desa-desa Wajo. (eddy)
Editor: Manaf Rachman
















