Sejauh ini, tim BPBD telah melaksanakan asesmen di lokasi kejadian, dibantu aparat desa dan TNI Polri serta masyarakat dengan bergotong royong membersihkan material tanah longsoran di jalan poros setempat agar bisa dilalui kendaraan.
“Saat ini jalan poros yang tertimbun tanah sudah bisa dilalui kendaraan roda dua. Diperlukan alat berat untuk membersihkan seluruh material tanah di jalan itu. Untuk kondisi banjir di dua desa Baloli dan Radda sudah mulai surut, walaupun masih ada genangan air,” papar Amson.
Menurut dia, Kabupaten Luwu Utara merupakan salah satu kabupaten yang rawan terdampak bencana banjir dan tanah longsor. Oleh karena itu, BPBD setempat dituntut agar senantiasa meningkatkan kewaspadaan. Selain itu, daerah ini diapit pegunungan dan sungai.
“Kalau Lutra memang rawan longsor dan banjir. Jadi setiap hujan (intensitas tinggi) teman-teman BPBD Lutra selalu waspada. Lutra ini daerah tiga dimensi, ada pegunungan, aliran sungai terbanyak dan daratan rendah yang semua (daerah rawan) berpotensi bencana. Ini perlu perhatian” tuturnya menjelaskan.
Sebelumnya, bencana banjir bandang menerjang Luwu Utara pada Juli 2020. Banjir ini merupakan bencana terparah sepanjang 30 tahun terakhir. Tercatat, ada 38 orang meninggal, 10 orang dinyatakan hilang sera 106 korban luka. Sebanyak 10 rumah dilaporkan hanyut dibawa air dan 213 unit rumah terdampak kerusakan.(*)
















