“Cak Munir tugas berat juga ini. Karena ekosistem kita, oleh karenanya kita harus membangun ekosistem media yang baik. Baik dari sisi konten, jurnalisme maupun dari sisi bisnis ke depan di tengah disrupsi media ini. Ini yang saya kira juga pekerjaan berat kita. Bagaimana kita membangun ekosistem media massa kita yang kuat dan sehat,” katanya.
Cak Munir, perkembangan teknologi yang semakin masif turut berdampak pada industri media. Lahirnya kecerdasan buatan (AI) turut memudahkan produksi konten namun media wajib tetap mengacu kepada kode etik jurnalistik.
“Kita harus memanfaatkan AI ini juga dalam jurnalisme yang berkualitas yang patuh kepada kode etik jurnalistik. Nah ini yang mungkin harus digencarkan baik dalam program maupun tindak lanjut atau pemahaman dari seluruh anggota PWI dan media kita,” katanya.
Cak Munir itu menekankan bahwa mobilisasi kerja sama dengan para pemangku kepentingan atau stakeholder terutama pemerintah sebab dalam kondisi saat ini, kehadiran negara dibutuhkan untuk membangun ekosistem media massa secara kuat dan sehat.
“Kemudian bagaimana membangun keakraban antara teknologi AI dengan organisasi. Dan bagaimana kita memperbanyak peningkatan kualitas SDM kita. Karena melalui pelatihan, melalui uji kompetensi dan seterusnya itu harus bermitra dengan para stakeholder. Terutama dengan pemerintah dan stakeholder lain seperti BUMN dan swasta. Jadi ini modal utama. Untuk mendapat modal ini harus membangun kepercayaan,” ujarnya.
“Nah antara satu dan program lain tadi saling mengait agar bisa membangun rancangan program itu dengan baik. Tapi saya yakin karena pemerintah sebenarnya ingin mendorong PWI memiliki sebuah kekuatan, kebersamaan, kekompakan untuk wartawan dan untuk membangun pers Indonesia,” imbuh dia.
Ditanya peluang kontestasi kongres, dirinya optimisme menang karena menilai antusias rekan-rekan PWI Provinsi yang ingin melakukan sebuah lompatan untuk mendapatkan kembali marwah dan martabat.
“Kalau selama ini dijalankan dengan biasa-biasa saja maka susah PWI mendapatkan kepercayaan lagi.
Makanya teman-teman dengan semangat mengembalikan marwah martabat dan kewibawaan PWI, dia ingin tokoh netral. Tokoh netral yang memiliki darah sejati PWI kemudian memiliki kompetensi dan kapasitas memimpin organisasi.(rukman nawawi)
















