Home / Sulsel

Sabtu, 11 Oktober 2025 - 16:39 WIB

PROFESI WARTAWAN ANTARA IMPIAN, HARAPAN, DAN KEMATIAN DI UJUNG ALGORITMA

Benz Jono Hartono

Praktisi Media Massa

MEDIASINERGI.CO — “The medium is the message,” kata Herbert Marshall McLuhan(1964) puluhan tahun lalu, sebuah peringatan yang kini terbukti seperti nubuat.

Dulu, media hanyalah saluran penyampai pesan. Kini, media telah menjadi pencipta realitas itu sendiri.
Dan di tengah perubahan itu, wartawan, sang pengendara kebenaran, kini justru menjadi penumpang yang terseret arus, kehilangan arah, kehilangan suara.

Profesi wartawan yang dulu diagungkan sebagai pilar keempat demokrasi, kini seperti bangunan tua yang nyaris roboh.
Pondasinya digerogoti klik, view, dan rating. Pilar idealismenya digantikan mesin algoritma yang dingin dan tanpa empati.
Dalam lanskap digital hari ini, wartawan bukan lagi gatekeeper informasi, melainkan gatekeeper illusion, penjaga semu dari dunia yang direkayasa teknologi.

*Dari Pena ke Jempol Lahirnya Generasi Wartawan Cepat Saji*
Era keemasan jurnalisme adalah era ketika kebenaran butuh waktu.
Wartawan harus riset, konfirmasi, dan menulis dengan kesadaran etika.
Namun kini, logika media telah digantikan logika pasar, siapa cepat, dia menang.
Kebenaran tak lagi penting, yang penting lebih dulu tayang, lebih banyak dibagikan, lebih banyak iklan masuk.

Baca Juga:  Uji Coba New Manajement Traffic Dilakukan Besok, Kadishub Makassar : Solusi Atasi Kemacetan

Wartawan masa kini bekerja bukan di bawah bimbingan redaktur, tapi di bawah tekanan traffic manager.
Kualitas tulisan diukur dari jumlah klik, bukan dari kedalaman analisis.
“Konten” menjadi mantra baru, kata yang netral tapi penuh racun.
Karena di balik kata itu, kebenaran telah diturunkan derajatnya menjadi sekadar materi konsumsi.

McLuhan sudah memperingatkan, ketika medium berubah, isi pesan juga berubah.
Kini, bukan lagi manusia yang menguasai media, tapi media yang membentuk manusia, termasuk wartawan.
Ponsel bukan lagi alat kerja, tapi tuan baru yang memerintahkan manusia menulis demi algoritma.

*Kebenaran yang Tersingkir di Pabrik Konten*
Ruang redaksi yang dulu penuh diskusi kini berubah menjadi pabrik konten.
Di sana, wartawan dipacu layaknya buruh produksi, harus menghasilkan berita setiap jam, tanpa sempat merenung, tanpa sempat berpikir.
Berita bukan lagi laporan, ia adalah produk digital yang harus laku di pasaran.

Neil Postman dalam bukunya Amusing Ourselves to Death menulis:
*_”Kita sedang menuju masyarakat yang mati bukan karena dilarang berpikir, tapi karena terlalu sibuk menghibur diri.”_*

Baca Juga:  AKBP Aditya Pradana: Budaya Polri Harus Menjadi Pedoman Dalam Bertugas

Media massa telah menjadi panggung hiburan kolektif.
Semua hal, dari politik hingga tragedi, diolah menjadi tontonan cepat yang menimbulkan sensasi.
Wartawan pun ikut menari di atas panggung itu, dengan skrip yang ditulis oleh tren, bukan oleh nurani.

Dan di tengah gemuruh dunia digital, wartawan idealis yang masih menulis dengan hati seringkali tampak seperti relik sejarah.
Mereka dicemooh sebagai kuno, lambat, dan “tidak adaptif”.
Padahal justru merekalah satu-satunya yang masih sadar bahwa berita bukan sekadar informasi, tapi tanggung jawab moral.

*Ketika Berita Tak Lagi Realitas*
Jean Baudrillard menyebut dunia modern sebagai simulacra (realitas palsu) yang meniru kenyataan, hingga batas antara fakta dan ilusi lenyap.
Dan di situlah wartawan hari ini terjebak, menulis berita yang tampak nyata, tapi sebenarnya hanyalah bayangan dari bayangan.

Sebuah unggahan di media sosial bisa menjadi sumber berita nasional.
Kebohongan bisa jadi kebenaran, asal cukup banyak yang membagikannya.
Fakta dan opini kini berbaur seperti kopi instan, cepat, manis, tapi tak bergizi.

Share :

Baca Juga

SOPPENG

PWI Sulsel Sinergi Bersama RRI, TVRI, dan ANTARA demi Dorong Pemberitaan Berkualitas

Sulsel

Tim Baksos IARMI Sulsel Bantu Sandang dan  Sembako Warga  RW 4 Kompleks Kusta Jongaya Makassar

Sulsel

Kemarau Panjang, Wali Kota Makassar Bersama Warga Salat Istisqa di Al-Markaz

Sulsel

Usaha Sambil Doa, Pemkot Makassar Kerahkan Tangki Air, Sumur Bor hingga Salat Istisqa Minta Hujan

Sulsel

Kemarau Panjang, Wali Kota Munafri Bersama Warga Salat Istisqa di Al-Markaz

Sulsel

Munafri Pacu Pemerataan Pembangunan di Pulau, Sekolah, Jalan, Dermaga hingga Transportasi Laut

Sulsel

Munafri Bawa Kepala OPD Menyeberang ke Pulau Sangkarrang, Janji Percepat Pembangunan di Pulau

Sulsel

Munafri Ingin Urban Farming Masjid Bin Baz Jadi Model Ketahanan Pangan Perkotaan