Home / Sulsel

Sabtu, 1 November 2025 - 19:11 WIB

Zarman Syah: Data dan Empati, Dua Kunci Komunikasi Krisis di Era Digital

Zarman Syah, dari Sekolah Jurnalis Indonesia (SJI) PWI Pusat. Dok PWI Pusat

Zarman Syah, dari Sekolah Jurnalis Indonesia (SJI) PWI Pusat. Dok PWI Pusat

Literasi Media

Menambahkan pandangan dari sisi praktis, Humas PWI Pusat, Achmad Rizal, menyampaikan, komunikasi publik di lembaga pemerintah membutuhkan pemahaman literasi media.

Ia menilai kemampuan atas literasi jelas penting, agar petugas Lapas mampu menghadapi pemberitaan dan opini publik secara proporsional. “Petugas Lapas sering menjadi garda depan menghadapi opini publik. Karena itu, literasi media bukan sekadar pelengkap, tapi kebutuhan,” kata Rizal.

Kolaborasi Multiunsur

Selain dari PWI, hadir pula narasumber dari organisasi pers nasional lain dan dosen komunikasi dari berbagai perguruan tinggi, yang menyorot pentingnya kerja sama lintas sektor dalam membangun sistem komunikasi publik yang tangguh.

Para akademisi menilai, Pasopati menjadi tonggak reformasi komunikasi lembaga publik di Indonesia – bukan hanya sebagai protokol krisis, tetapi juga sebagai model kolaborasi antara pemerintah dan pers.

Baca Juga:  Mesin Pompa Air IKK Unit Tancung Rusak, Ratusan Pelanggan Kesulitan Dapatkan Air Bersih

“Krisis informasi hanya bisa diredam bila pemerintah dan media berbicara dengan bahasa yang sama: bahasa fakta,” kata salah satu akademisi yang hadir pada forum itu.

Refleksi dari Lapas Cipinang

Zarman Syah juga berpendapat, pengalaman berbicara di hadapan ratusan pejabat pemasyarakatan meninggalkan kesan mendalam.

Ia melihat perubahan paradigma bahwa lembaga pemerintah kini lebih terbuka terhadap masukan dari media dan akademisi.

“Kini pemerintah tak lagi menutup diri. Mereka belajar dari jurnalis dan kampus tentang bagaimana membangun kepercayaan publik lewat komunikasi yang terbuka,” katanya, usai acara.

Baca Juga:  Ikhtiar, Perumda Air Minum Kota Makassar Gelar Shalat Istisqa

Menurutnya pedoman Pasopati menjadi “angin segar” dalam reformasi komunikasi publik, karena memberi ruang bagi keterlibatan multiunsur dalam satu visi bersama, demi menjaga reputasi lembaga dengan data, empati, dan keterbukaan.

Humanis

Kegiatan yang berlangsung satu hari itu menjadi momentum penting bagi jajaran Kemenimpas dan seluruh UPT Pemasyarakatan di Indonesia dalam memperkuat sinergi lintas lembaga.

Kemenimipas berharap pedoman Pasopati menjadi pondasi baru bagi komunikasi publik pemerintah yang humanis, profesional, dan terpercaya. “Krisis adalah ujian reputasi, dan reputasi hanya bisa dijaga dengan komunikasi yang jujur,” tutup Zarman Syah.(***)

Share :

Baca Juga

Sulsel

Munafri Ingin Urban Farming Masjid Bin Baz Jadi Model Ketahanan Pangan Perkotaan

Sulsel

Pemkot Makassar dan BPJS Serahkan Santunan Ratusan Juta untuk Ahli Waris Pekerja Rentan

Sulsel

Jalan Balaikota – Thamrin Jadi Proyek Percontohan Pedestrian Ramah Disabilitas di Makassar

Sulsel

Logo HUT ke-419 Makassar Disayembarakan, Desainer Lokal Adu Gagasan

SOPPENG

Bupati Soppeng Resmikan Gedung UPD dan CT Scan RSUD Latemmamala

Sulsel

Jembatan Kembar Barombong Mau Dibangun Pemkot Makassar, Tapi Tiga Bidang Lahannya Masih Bersengketa

Sulsel

Wamen Komdigi Angga Raka Tampil Perdana di PWI CHANNEL, Podcast PWI Pusat Resmi Diluncurkan

Makassar

Jumpa Maba di Masjid Agung Kampus UIN Alauddin