“Mereka cukup realistis dan optimis. Dengan masa kerja yang relatif singkat, ternyata bisa mencapai angka hampir 2 triliun. Ini tentu menjadi modal penting untuk mencapai target ke depan,” imbuhnya.
Tak hanya itu, Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Makassar itu menekankan pentingnya sinergi dan kekompakan internal Bapenda sebagai kunci utama untuk mengejar target PAD sebesar Rp2,4 triliun pada 2026.
Terkait struktur pendapatan, Ismail menyebutkan bahwa PAD Kota Makassar pada tahun lalu masih didominasi oleh sektor Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), serta pajak reklame.
Namun, berdasarkan data di lapangan, terdapat tren pertumbuhan yang cukup kuat pada sektor pajak restoran serta usaha makanan dan minuman.
“Sekarang ini pajak restoran dan minuman semakin berkembang. Makanya kami memanggil rapat kerja ini dengan salah satu agenda untuk turun melakukan sidak dan uji petik kepada para pengusaha, sekaligus melakukan sosialisasi agar mereka sadar dan taat pajak,” ujarnya.
Ismail juga menyoroti maraknya usaha kafe yang memanfaatkan rumah pribadi sebagai tempat usaha.
Menurutnya, fenomena tersebut menjadi potensi pajak yang perlu dioptimalkan oleh Bapenda.
“Ada beberapa potensi pajak yang harus dimaksimalkan tahun ini, apalagi sekarang banyak kafe yang dibuka dari rumah pribadi. Itu merupakan salah satu potensi pajak yang harus dikelola secara maksimal oleh Bapenda,” pungkasnya.
Ia menegaskan, pajak yang dipungut dari masyarakat dan pelaku usaha akan dikembalikan kepada warga dalam bentuk pembangunan infrastruktur serta peningkatan pelayanan publik di Kota Makassar.(jk)
Editor: Manaf Rachman
















