Maju—tapi apakah semua ikut bergerak, atau hanya sebagian yang berlari? Religius—apakah nilai itu membimbing, atau hanya menghiasi? Bermartabat—apakah terasa dalam pelayanan, atau hanya terlihat dalam pidato? Terdepan—apakah benar memimpin, atau sekadar tidak ingin tertinggal? Berkeadilan—apakah dirasakan, atau masih diperjuangkan?

Hari jadi sering kali menjadi panggung yang rapi. Namun kehidupan sehari-hari adalah panggung yang sebenarnya—yang tidak selalu diberi dekorasi, tapi selalu menuntut kejujuran.
Peringatan 9 April ini akan menyatukan banyak hal: suara, warna, dan harapan. Tapi yang lebih penting adalah apakah ia juga menyatukan kesadaran—bahwa membangun daerah tidak cukup dengan optimisme, tapi membutuhkan konsistensi yang kadang tidak nyaman.
Karena Wajo tidak kekurangan sejarah. Wajo juga tidak kekurangan semangat. Yang sering diuji adalah—keteguhan untuk tidak berhenti di seremoni.
Maka di usia 627 tahun ini, refleksi menjadi penting. Bukan untuk meruntuhkan kebanggaan, tapi untuk menegakkannya dengan lebih jujur.
Barangkali, kebersamaan yang kita butuhkan bukan yang paling ramai, tapi yang paling nyata. Dan Maradeka yang kita jaga bukan yang paling sering disebut, tapi yang paling terasa dampaknya.
Selamat Hari Jadi ke-627 Wajo.
Dari 29 Maret yang sunyi, ke 9 April yang meriah— semoga kali ini, gaung benar-benar berubah menjadi gerak. Salama’ki To Pada Salama.
















