Oleh Ady Indra Pawennari
MEDIASINERGI.CO
KEPRI – Siang itu, Selasa 21 April 2026 sekitar pukul 13.00 WIB, sebuah pesan WhatsApp masuk dari Sudirman Almoen. Isi pesan tersebut berupa undangan wawancara untuk penyusunan buku sejarah pembentukan Provinsi Kepulauan Riau. Dalam pesan itu, nama saya dicantumkan sebagai salah satu “pejuang” pembentukan Kepri.
Saya sempat terpaku membaca kata “pejuang” yang disematkan pada nama saya. Bukan karena merasa paling layak, melainkan karena penyebutan itu baru hadir setelah lebih dari dua dekade berlalu. Ada rasa haru, tetapi juga perasaan yang sulit diungkapkan.
Tak lama setelah menerima pesan tersebut, saya menghubungi Sigit Rachmat, rekan seperjuangan di lapangan saat masa pembentukan Kepri. Meski lebih muda di dunia jurnalistik, Sigit kala itu aktif di Harian Sijori Pos, sementara saya pernah bekerja di Harian Sijori Mandiri, Suara Kita, Suara Riau hingga akhirnya di bintanpos.com.
Ternyata Sigit juga menerima undangan yang sama. Hal serupa disampaikan Amril, junior saya di Sijori Mandiri. Begitu pula senior saya, Ridarman Bay, yang pernah menjadi redaktur saya di Harian Suara Kita dan Suara Riau.
Sayangnya, saya tidak dapat menghadiri kegiatan tersebut karena harus menghadiri pertemuan bisnis bersama investor asal China dan Singapura di Batam. Ketidakhadiran itu sebelumnya sudah saya sampaikan langsung kepada Bang Sudirman Almoen.
Namun, undangan itu membuat saya kembali mengenang perjalanan panjang perjuangan pembentukan Kepri, terutama peran para wartawan yang turut berada di garis depan lewat pemberitaan.
Jika boleh memberi usulan, ada dua nama wartawan yang menurut saya sangat layak dikenang sebagai bagian penting dari perjuangan tersebut, yakni Ahmad S Udi dan Surya Makmur Nasution.
Pada Musyawarah Besar Rakyat Kepri di Hotel Royal Tanjungpinang, 15 Mei 1999, Ahmad S Udi memainkan peran besar melalui pemberitaan yang ia tulis untuk Mandiri Online. Saya masih ingat bagaimana ia menulis berita di rumah saya di Jalan Sumatera Nomor 5, Tanjungpinang.
Dalam sehari, delapan berita terkait Mubes Rakyat Kepri berhasil tayang di Mandiri Online, media siber berbasis Jakarta yang saat itu mulai dikenal luas. Berita-berita tersebut mendapat perhatian besar karena ketika itu belum ada media online di Kepri. Media cetak lokal yang terbit harian dan dapat dibaca masyarakat keesokan paginya hanyalah Sijori Pos.
Selain Ahmad S Udi, nama Surya Makmur Nasution juga pantas mendapat tempat dalam sejarah perjuangan Kepri. Sebagai wartawan Harian Kompas, ia dikenal konsisten memberitakan dinamika perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau di media nasional.
Saya mengetahui hal tersebut karena hampir setiap kegiatan perjuangan pembentukan Kepri di Tanjungpinang, proses penulisan dan pengiriman berita media nasional sering dilakukan di kantor bintanpos.com.
Kala itu, selain Sijori Pos, hanya bintanpos.com yang memiliki fasilitas kantor media cukup lengkap dengan komputer dan jaringan internet memadai. Fasilitas itu kerap dimanfaatkan wartawan luar daerah untuk menulis dan mengirim berita ke kantor pusat masing-masing.
Banyak pemberitaan mengenai perjuangan pembentukan Kepri yang kemudian dikutip media nasional maupun lokal dari bintanpos.com, media online pertama di Kepri yang berdiri sejak 20 Agustus 2001.
Pada masa perjuangan itu, bintanpos.com berada di barisan depan dalam menyampaikan perkembangan pembentukan Provinsi Kepulauan Riau kepada publik.
Di ruang redaksi, saya memimpin media tersebut bersama redaktur pelaksana Dahri Maulana, didukung sejumlah wartawan muda penuh semangat seperti Angelia Dhamayanti, Ruziana, Tri Indaryani, Teguh Susanto, Greos Saragih, Coky Iskandar, Jhonson Sihombing, Yudi Santoso, Nosy Arsyita, Adrizas, dan Erwin Jr.
Kini, setelah Provinsi Kepulauan Riau berdiri lebih dari dua puluh tahun, jejak para wartawan yang dulu ikut menyuarakan perjuangan itu perlahan mulai dikenang kembali. Mungkin nama mereka tidak banyak tercatat dalam sejarah resmi, tetapi mereka pernah berada di garda terdepan — berjuang bukan dengan senjata, melainkan melalui tulisan. (***)










