Lebih lanjut, ia menyinggung tradisi peringatan May Day yang selama ini identik dengan aksi turun ke jalan. Namun, menurutnya, pendekatan dialog terbuka antara pemerintah, pengusaha, dan buruh justru dapat menjadi alternatif yang lebih konstruktif.
“Kalau ada ruang seperti panggung dialog, lalu buruh bisa menyampaikan aspirasinya secara langsung, itu jauh lebih baik. Tinggal bagaimana kesepakatan bersama bisa dibangun,” ujarnya.
Meski demikian, dia mengakui sebagian besar serikat pekerja tetap telah mempersiapkan aksi dalam rangka May Day tahun ini.
Hal tersebut dinilai sebagai bagian dari dinamika perjuangan buruh yang selama ini berfokus pada peningkatan kesejahteraan.
Dia menekankan pentingnya, penyamaan persepsi antara buruh, pengusaha, dan pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan ketenagakerjaan.
Menurutnya, selama ini perbedaan pandangan masih kerap terjadi, sehingga diperlukan forum rutin untuk dialog dan evaluasi bersama.
“Ini penting untuk dihidupkan kembali agar komunikasi tetap berjalan,” ungkapnya.
Selain itu, Andi menyinggung keberadaan desk ketenagakerjaan yang merupakan instruksi nasional, sebagai wadah pengaduan dan penegakan hukum di bidang ketenagakerjaan.
Ia berharap fasilitas tersebut dapat berjalan efektif, sehingga berbagai persoalan buruh dapat diselesaikan tanpa harus berujung pada aksi demonstrasi.
Karena itu, kehadiran pemerintah sangat penting untuk memastikan hak-hak pekerja terpenuhi.
“Pertemuan nantinya menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi di Kota Makassar, khususnya dalam menciptakan hubungan industrial yang harmonis dan berkeadilan,” pungkasnya.(jk)
Editor: Muh. Hamzah
















