Pihak Dinas Pariwisata Makassar 10 tahun lalu, kata seorang nelayan, pernah membangun menara tapi saat ini tampak terbengkalai karena selain fondasinya terkikis ombak, atap dan tangganya butuh renovasi.
“Saat ini pak Menteri Pertanian Andi Amran Sulaeman mulai melirik pulau ini, ” tutur Dg Juma, seorang mantan Ketua RT di Pulau Baarang Caddi yang mengaku ditugasi menjaga pulau ini dengan membangun beberapa gasebo dan ‘balla²’ yang dia sewakan ke para pengunjung.
“Semoga di tangan beliau, pulau ini bisa jadi obyek wisata yang diminati”, harapnya, sambil menunjuk gasebo ukiran dan meja panjang serta sejumlah kursi terbuat dari kayu ‘sappu’ milik Pak Amran Sulaeman.
” Biasanya Pak Mentan merasa senang kalau berkunjung menikmati suasana pantai karang yang jernih di sini”, cerita Juma sbil.menunjuk sebagian dermaga yang sudah di renovasi pak Andi Amran.
Luas daratan hanya sekitar 2 hektar. Tapi kalau dibuatkan tanggul pemecah ombak mungkin tumbuh delta bertambah jadi daratan baru.
Dermaganya sudah banyak rusak. Menara pun tampak ‘merana’ terkikis fondasinya. Hingga tampak butuh ‘sentuhan’ perhatian lewat proyek.
‘Mungkin karena retribusi masuk dermaga ‘Kayu Bangkoa’ di Pantai Losari hanya seribu rupiah perorang hingga PAD nya tak diharapkan mampu mengembangkan obyek wisata yang dulu terkenal di dalam gugusan Pulau pulau di lintasan Selat Makassar depan Kota “pintu” Indonesia Timur ini. Hingga seniman yang juga mantan Bupati Bone, alm. Andi Baso Amir, adik alm Jenderal M Yusuf, menjulukinya ‘Lasarengba’, sebagai akronim dari Laelae, Samalona , Kodingareng dan Barrang.
Dengan hadirnya tokoh Sulsel yang berminat ‘memelihara’ Pulau ini, tentunya tak salah kalau ‘menyolek’ Pemkot Makassar lewat Dinas Pariwisata agar lebih aktif dan kreatif mengarahkan programnya ke kawasan ‘Lasarengba’, khususnya Pulau Kodingareng Keke ini. Kita tunggu, semoga. (r)

















