Menurut dia, ambisi politik harus ditempatkan setelah pembenahan organisasi. Ia mengatakan bergabung dengan Golkar karena memiliki cita-cita politik, tetapi pencapaian cita-cita itu harus ditopang prestasi partai.
“Kita tinggalkan dulu soal pilkada, itu akan dijawab oleh prestasi,” ujarnya.
IAS meminta kader mengubah kekecewaan akibat kegagalan politik menjadi energi untuk membangun optimisme. Ia meyakini Golkar memiliki kader potensial untuk kembali menjadi kekuatan politik utama di Sulsel.
Keyakinan itu juga disampaikan DBR. Ia menyebut kepemimpinan IAS sebagai energi untuk mengembalikan kejayaan Golkar di Sulawesi Selatan.
“Mari bersama menjadikan momentum silaturahmi dan konsolidasi untuk menyatukan langkah dan energi untuk merebut kembali kemenangan Partai Golkar di Sulsel dan Wajo,” kata DBR.
Golkar Wajo memiliki modal elektoral. Perolehan kursi DPRD Wajo meningkat dari empat kursi pada Pemilu 2019 menjadi lima kursi pada Pemilu 2024.
Bagi IAS dan DBR, capaian itu belum cukup. Konsolidasi akan menjadi ujian berikutnya untuk membuktikan apakah Golkar mampu mengubah modal politik menjadi kemenangan.(***)
















