Mendengar hal itu, binar wajah Gubernur Ansar langsung berubah penuh antusias. Di mata beliau, jurnalis yang sedang berjuang meningkatkan kapasitas diri agar lebih profesional, kompeten, dan beretika, bukanlah sekadar tamu biasa. Itu adalah prioritas. Beliau memandang peningkatan kualitas SDM wartawan sama krusialnya dengan agenda pembangunan fisik lainnya di Kepri.
Tanpa keraguan sedikit pun, Gubernur Ansar langsung memberikan komitmennya. Beliau merangkul niat baik itu dengan penuh ketulusan.
“Saya sudah terima undangannya. Insya Allah, saya hadir dan membuka acaranya sesuai jadwal yang sudah ditetapkan panitia,” tegas Ansar dengan nada suara yang mantap sekaligus menyejukkan.
Mendengar jawaban itu, seketika perasaan kami mengharu biru. Ada rasa buncah dan bahagia yang mendalam hingga membuat tenggorokan kami tercekat. Kami sempat tertegun tidak percaya. Di hari yang begitu melelahkan bagi seorang gubernur, beliau tidak hanya memberikan kami waktu yang amat berharga, tetapi juga memberikan legitimasi dan dukungan penuh bagi masa depan pers di Kepulauan Riau.
Ketulusan beliau menerima kami di tengah riuhnya Hari Kemerdekaan menjadi bukti nyata betapa besarnya kepedulian beliau terhadap profesi jurnalis. Kebahagiaan malam itu kian lengkap dan terasa begitu personal.
Sebelum kami berpamitan, dengan penuh keramahtamahan, Gubernur Ansar menoleh ke arah ajudannya. Beliau meminta sang ajudan untuk mengabadikan momen pertemuan kami malam itu melalui bidikan kamera.
Sebuah gestur bersahabat yang sangat spontan, namun menegaskan bahwa pertemuan ini bukan sekadar formalitas protokoler, melainkan sebuah kenangan berharga yang patut disimpan. Kilatan lampu kamera malam itu resmi mengunci sebuah momen bersejarah agar tak lekang digilas waktu.
Dengan mata yang berkaca-kaca menahan rasa bahagia, saya langsung berdiri, menyalami beliau dengan takzim, dan memohon diri. Kami pulang ke sekretariat dengan langkah kaki yang terasa ringan dan semangat yang membubung tinggi untuk memimpin rapat pemantapan panitia.
Tiada untaian kata yang cukup kuat untuk mewakili rasa terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya dari kami. Terima kasih, Pak Gubernur Ansar Ahmad, atas ruang waktu, ketulusan hati, dan pelukan hangatnya bagi peningkatan SDM wartawan di Bumi Bunda Tanah Melayu ini.
Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia!
Merdeka!, Merdeka!, Merdeka!
(***)
















