Jejak profesionalnya pun terbentang panjang. Setelah berkarya di Garuda Indonesia Airways pada 1963–1965, ia mengabdikan diri di Radio Republik Indonesia (RRI) pada 1965–1996.
Selepas itu, ia tetap menyumbangkan ilmu melalui dunia pendidikan sebagai pengajar di SMA Negeri 4 Makassar dan dosen pada Akademi Komputer dan Bahasa Asing. Sebagai Pegawai Negeri, pengabdiannya mendapat penghargaan Satyalancana Karya Satya dari Presiden RI pada 1996.
Namanya kembali tercatat melalui Celebes Award 2002 dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan atas pengabdian dan pembinaannya di bidang seni dan budaya, kemudian KPID Award 2007 yang menandai kiprahnya dalam dunia penyiaran.
Di luar profesi, ia juga aktif dalam berbagai organisasi perempuan, seni dan kemasyarakatan. Hidupnya seakan menjadi rangkaian amanah yang disambungkan dari satu ruang pengabdian ke ruang lainnya, meninggalkan pengalaman dan keteladanan bagi generasi sesudahnya.
Kini panggung itu telah sunyi. Mikrofon yang dahulu menjadi sahabatnya telah ditinggalkan, tetapi suara pengabdian tidak pernah benar-benar hilang. Ia tetap hidup dalam karya, penghargaan, kenangan dan cerita orang-orang yang pernah mengenalnya.
Selamat jalan, almarhumah Dra. Hj. Murtini Suharto Daeng Te’ne. Semoga segala karya menjadi amal jariyah, segala pengabdian menjadi catatan kebaikan, dan segala perjuangan mendapat tempat mulia di sisi Allah SWT. Manusia boleh pergi, tetapi jejak pengabdian tidak ikut terkubur bersama jasad. Al-Fatihah. (sdn)
















