Ia juga mengakui kondisi jaringan perpipaan PDAM saat ini menjadi salah satu tantangan dalam menjaga kualitas dan kontinuitas pelayanan. Sebagian jaringan telah berkembang secara kompleks dan tidak seluruhnya mudah dipetakan.
Selain itu, terdapat sejumlah jaringan pipa yang berada cukup dalam sehingga membutuhkan koordinasi dan perizinan sebelum dilakukan pekerjaan.
Ia mencontohkan jaringan di kawasan Jalan Urip Sumoharjo, dan Jalan Perintis Kemerdekaan yang berada sekitar dua meter di bawah permukaan.
Kondisi tersebut membuat proses penanganan membutuhkan izin dari pihak terkait, termasuk adanya persyaratan jaminan.
Namun, Andi Syahrum menyebut PDAM masih menghadapi kendala administrasi karena belum memiliki nomenklatur anggaran untuk pembayaran jaminan tersebut.
Meski menghadapi sejumlah tantangan teknis dan administrasi, PDAM Makassar memastikan distribusi air bersih terus dilakukan sebagai langkah tanggap terhadap kebutuhan masyarakat selama musim kemarau panjang.
“Kami PDAM juga terus berkoordinasi dengan pimpinan Pemerintah Kota, BPBD, TNI, Polri serta unsur RT/RW agar bantuan air dapat diarahkan kepada warga yang benar-benar membutuhkan,” tutupnya.
Langkah Perusahaan Umum Daerah Air Minum (PDAM) Kota Makassar mengerahkan armada berukuran kecil yang dilengkapi tandon air untuk menjangkau lorong-lorong permukiman mendapat perhatian dari pemerhati publik.
Pemerhati publik, Dr. Nurmal Idrus, menilai langkah tersebut menjadi inovasi layanan yang relevan di tengah musim kemarau panjang yang berdampak terhadap ketersediaan air bersih bagi sebagian masyarakat.
Menurut Nurmal, pendekatan tersebut menunjukkan perubahan cara pandang dalam pelayanan publik. Bukan hanya menunggu masyarakat mendatangi titik distribusi, tetapi menghadirkan layanan lebih dekat dengan warga.
“Logikanya sederhana, kalau warga sulit mendatangi air, maka air yang harus mendatangi warga,” kata Nurmal.
Ia mengatakan, kondisi Kota Makassar tidak hanya ditentukan oleh kawasan jalan protokol, gedung tinggi, maupun pusat bisnis.
Di balik itu, terdapat lorong-lorong sempit yang menjadi ruang hidup masyarakat sekaligus menghadapi persoalan pelayanan dasar, termasuk kebutuhan air bersih.
Karena itu, penggunaan kendaraan pengangkut air berukuran lebih kecil dinilai menjadi bagian penting dari strategi distribusi di kawasan yang sulit dijangkau mobil tangki berukuran besar.
“Kendaraan ini bisa menyusuri lorong-lorong yang sulit dijangkau kendaraan besar,” ujarnya.
Nurmal menilai, substansi inovasi tersebut bukan semata-mata terletak pada bentuk kendaraan yang digunakan, tetapi pada pendekatan pelayanan yang menempatkan akses warga sebagai pertimbangan utama.
Menurutnya, pelayanan publik tidak selalu harus menunggu masyarakat datang. Dalam kondisi tertentu, pemerintah dan penyelenggara layanan justru perlu mendatangi masyarakat yang membutuhkan.
“Pelayanan publik tidak selalu harus menunggu warga datang. Sesekali pemerintah yang harus mendatangi warga,” katanya.
“Ukuran sederhana sebuah inovasi publik bukan seberapa canggih namanya, tetapi seberapa dekat manfaatnya dengan warga,” lanjutnya.
Nurmal berharap, pendekatan pelayanan tersebut dapat terus diperkuat selama kondisi kemarau berlangsung, sembari tetap dibarengi pembenahan jaringan dan penguatan sistem penyediaan air bersih secara berkelanjutan.
“Sebab kota yang baik bukan hanya kota yang punya jalan besar, tetapi juga kota yang pemerintahnya mau masuk ke jalan-jalan kecil tempat warganya hidup,” pungkasnya.(jk)
Editor: Manaf Rachman
















