Home / Sulsel

Senin, 10 November 2025 - 18:06 WIB

MENJENGUK WARTAWAN SENIOR YANG KINI BISU, TAPI TETAP PR0DUKTIF

Oleh Marah Sakti Siregar

MEDIASINERGI.CO JAKARTA — Hari Jum’at, 7 November 2025. Sore cuaca di Jakarta dan Tangerang, cerah. Sore yang terang dan jernih itu, menjadi momen indah tak terlupakan.
Setelah belasan tahun tak bertemu tatap muka, saya bersama istri Hj Diani Ratna Indrawati, dan sahabat lama kami Mas Ghoffar Ismail, akhirnya bisa bertemu dan berpelukan lagi dengan Gantyo Koespradono—wartawan senior, berusia 68 tahun, dan kini menjadi bisu akibat terkaman kanker yang ganas di laringnya.

Pertemuan di rumahnya di
Cluster Cemara No 12 Taman Royal 3 Tanah Tinggi, Kota Tangerang, berlangsung dengan haru tak tertahan. Senang bercampur pilu, begitu melihat realitas kondisi mantan wartawan Media Indonesia (1988-2012), sebelumnya di Harian Angkatan Bersenjata dan Majalah Ekonomi Progres itu.

Ia tampak lebih kurus. Dan di bawah jakun di tenggorokannya tampak bolong kecil dan selang yang terpasang di hidungnya.

Itulah alternatif jalan pernafasan dan saluran makanan yang dibuat Tim dokter THT yang harus diterimanya pasca operasi pengambilan laring.
Yakni, kotak suara yang terletak di wilayah leher, di antara tenggorokan dan batang tenggorokan. Laring Mas Gantyo terpaksa diambil tahun lalu akibat adanya serangan tumor ganas.

Namun, suasana haru di awal pertemuan kami, segera sirna setelah komunikasi mulai lancar. Berganti dengan gelak tawa dan senda gurau.
Ini sekaligus membuktikan bahwa ikatan persahabatan kami sejak era 1980-an sampai sekarang tak pernah pudar.
Belasan tahun pisah, kami bertemu di kediaman Mas Gantyo yang sederhana tapi resik. Lingkungannya rada sepi namun suasana rumah saat temu muka terasa hangat.

Baca Juga:  Kapolda Sulsel Dampingi Wapres RI Kunjungi Lokasi Bencana

Sobat kami itu didampingi istrinya yang ayu dan setia: Mbak Ipung. Nama lengkapnya: Christiana Purwati.
Mereka menikah tahun 1986 dan dianugerahi Tuhan sepasang anak. Yang pertama, Putra Ananda Purwapradana, yang sudah memberi mereka dua orang cucu.

Sedangkan anak kedua, Danielisa Putriadita, yang juga sudah menikah, memberi ayah dan mamanya dua orang cucu.

Si Bungsu dengan nama panggilan Dani itu, mengikuti jejak ayahnya sebagai wartawan. Dani sekarang bekerja sebagai wartawati di Kontan, koran, situs dan e-paper, yang fokus pada berita Ekonomi & Bisnis, milik Grup Kompas-Gramedia.

Awalnya, komunikasi kami dengan Mas Gantyo, agak canggung. Maklum, Mas Gantyo tak bisa bicara lancar seperti dulu. Ia kini bicara mengandalkan kotak papan tulis kecil sebagai alat bantu. Setiap ingin bicara, ia menulis cepat dengan pena di kotak papan tulis kecil itu. Lalu ditunjukkannya sering sambil tersenyum lebar kepada lawan bicaranya.

Kami pun menjawab pertanyaannya. Mas Gantyo menyimaknya dengan penuh perhatian. Ia jelas memahami jawaban lawan bicaranya. Maka, obrolan kami pun mengalir lancar. Ruangan keluarga tempat kami ngobrol segera dipenuhi gelak tawa. Sense of humor Mas Gantyo yang dulu kerap menggelitik kini masih utuh.

Baca Juga:  Kontrak Paket Pembangunan Pasar Tempe Diteken Bupati Wajo dan Kementerian PUPR

Ia, misalnya, meledek saya habis-habisan. Itu karena dulu pacaran naik bajaj—kendaraan roda tiga yang kini hampir punah di Jakarta. Dalam mimik dan gestur wajah yang lucu, sobat lama itu, saya tangkap seperti mengatakan: “Kamu dulu pacaran romantis dan irit banget. Pacaran naik bajaj ke mana-mana!”

Saya dan isteri langsung tertawa terkekeh-kekeh begitu sama-sama membaca dan menafsirkan tulisan Mas Gantyo.

Tak ketinggalan, dia kemudian mengungkit cerita lama Mas Ghoffar. Saat pertama kali berhasil, “mencipok”–diksi yang ditulisnya di papan kecil– untuk kata mencium– Mira, sahabat isteriku, sesama mahasiwi STP, yang kemudian menjadi istri Mas Ghoffar.
Kami bertiga pun langsung tergelak membaca canda itu, sementara Mbak Ipung ikut tersenyum sambil menggelengkan kepala.

Kenangan masa lalu kembali mengalir deras. Pada 1980-an, kami pernah tinggal serumah di Jl. Kemuning, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Kami berlima: saya, Mas Gantyo, Mas Ghoffar Ismail, Putu Laxman Pendit–kini mukim di Melbourne, Ausie–dan Almarhum Bernard Siregar, salah satu teman yang cerdas dan rajin menulis buku harian.

Ingatan melayang ke masa-masa ketika kami lima orang muda idealis dan penuh mimpi itu berkumpul untuk studi dengan harapan membangun masa depan yang gemilang.

Share :

Baca Juga

Sulsel

Wali Kota Munafri Tekankan Adab dan Etika Siswa Lewat Kurikulum Berbasis Kearifan Lokal

Sulsel

HLH 2026, Pemkot Makassar Turun ke Jalan Pungut dan Pilah Sampah

Sulsel

Di Forum RUU Pangan, Munafri Tawarkan Solusi Smart Green house ke DPR RI

Sulsel

Pengelolaan Keuangan Daerah yang Profesional dan Sesuai Aturan, Pemkab Takalar Pertahankan WTP dari BPK RI

Sulsel

DPRD Wajo Fasilitasi Aspirasi Warga, PLN Beri Solusi Pemindahan Tiang Listrik di Area Masjid

Sulsel

Demi Stadion Untia, Pemkot dan PIP Makassar Sepakati Hibah Aset Strategis

Sulsel

Demi Stadion Untia, Pemkot dan PIP Makassar Sepakati Hibah Aset Strategis

Sulsel

Agenda Monitoring, Bupati Takalar Tinjau Lokasi Pembangunan Kantor Kecamatan Laikang