Home / Sulsel

Senin, 26 April 2021 - 06:54 WIB

Indah Cahya Sari Jamil, Bintang Indonesia dari Bone

Tidak berapa lama, ada kejuaraan. Indah mulai muncul dan PB Djarum pun meliriknya. Baru tiga bulan di Tangerang, ada kejuaraan dan Indah tampil sebagai juara tunggal putri. Namun pada saat direkrut PB Djarum, Indah dipasangkan sebagai pemain ganda campuran. Indah juga dua kali magang di pemusatan latihan nasional (pelanas). Ayahnya sempat mengatakan, untuk apa masuk ke pelatnas, usianya masih 16 tahun. Tetapi Indah tetap ngotot,

“Nggak apa-apa, biar mau jadi apa di sana. Biar jadi tukang pungut bola,” balasnya.

Ya, akhirnya karena dia masih muda, biar disuruh oleh seniornya menjadi apa, memang begitu namanya magang. Ternyata di situ, ada yang hendak membidik Indah agar bergabung di PB Djarum dan kemudian terlaksana pada tahun 2014, Bahkan, ketika mengikuti Kejuaraan Dunia Junior di Kanada 12-18 November 2018, Indah masih dalam status magang.

Menghadapi event dunia seperti itu, Jamil hanya berpesan pada putrinya agar berjuang dan menghadapi siapa pun lawannya. Orang Sulawesi Selatan harus berani menghadapi siapa pun lawan dalam pertandingan. Jamil selalu bangga karena kalau bertanding semangat Indah sangat luar biasa.
Begitulah ketika Indah diberi kesempatan berpasangan dengan Leo Rolly Carmando. Jamil memprediksi anaknya akan mampu meraih juara dengan pasangan ganda campurannya tersebut. Keduanya masuk final Kejuaraan Dunia Junior di Kanada (2018) berhadap dengan rekan senegaranya yang lebih senior, yakni Rehan Naufal Kusharjanto/Siti Fadia Silva Ramadhanti. Pasangan Leo/Indah menang 21-15 dan 21-9 dalam tempo 31 menit.

Jamil yakin, setelah pasangan Indah/Leo mampu mengalahkan ganda campuran Tiongkok, di benaknya yakin pasangan putrinya ini bakal menyabet juara ketika kejuaraan junior Asia di Suzhou. 2019.
“Anak ini mental bertandingnya bagus. Kalau dia mau bertanding selalu meminta doa restu pada orang tuanya,” kata Jamil dalam wawancara dengan saya Ahad (25/4/2021) siang.

Menurut Jamil, yang paling berat dia hadapi ketika di Kanada karena pasangan Indah/Leo disuruh mengalah. Ternyata, setelah Kejuaraan Bulutangkis Junior Asia di Suzhou Tiongkok (2019), Jamil melihat, siapa pun pasangan anaknya dengan semangat bertanding yang begitu tinggi, dia akan tetap juara. Hanya pada kejuaraan di Suzhou yang kedua kalinya, pasangan Indah/Leo harus puas memperoleh medali perak.
Namun sebelum putrinya bergabung dengan elite pebulutangkis nasional, Jamil sudah menargetkan putrinya dalam waktu dua tahun harus juara. Ternyata dia mampu meraihnya lebih cepat dari yang ditargetkan Pada tahun 2018 dia sudah juara dunia junior dalam usia 16 tahun.

Baca Juga:  Bupati ASA Gelar Entry Meeting Bersama BPK RI

Jamil juga menyayangkan Indah karena harus selalu berganti pasangan saat tampil ganda campuran. Sekarang (2021) Indah masih masuk kategori pratama. Pada saat Ramadan ini, Indah tetap melaksanakan latihan berat sama dengan mereka yang tidak menunaikan ibadah puasa.

Sempat Binggung

Dalam usia yang masih belia Indah harus menjalani hidup di belantara kehidupan yang sangat keras dan ketat jauh dari orang tuanya demi karier bulutangkis yang sedang ditapakinya. Ketika itu dia sempat juga bingung saat bakal berangkat ke Kejuaraan Dunia Junior di Kanada. Pasalnya, yang boleh ikut adalah kelahiran tahun 2000, sementara Indah lahir 2002. Dia dan salah seorang temannya masih di ambang kebingungan. Bahkan ada nada pesimis di dalam dirinya.

“Belum tentu berangkat. Namun keesokan harinya, diberitahu tetap berangkat dengan melihat hasil-hasil pertandingan sebelumnya,” Indah mengatakan dalam wawancara Sabtu (24/4/2021) malam melalui telepon.
Dia tidak bermain dalam sebuah tim, tetapi tampil dalam pasangan ganda campuran. Waktu itu dia masih dalam status magang dan kali kedua dia menjalaninya. Pihak PBSI meliriknya karena melihat penampilan Indah yang sampai ke final dalam kejuaraan nasional junior yang dilaksanakan sebelumnya antara lain di Bangka Belitung. Rupanya, pihak PBSI memantau para pemain berbakat dan Indah termasuk salah satu yang dipanggil ke pelatnas.

“Saat mengikuti “World Junior Championship” (WJC) di Kanada, saya masih dalam status magang,” sebut Indah yang disebut-sebut sebagai penerus Rosiana Tendean tersebut.
Indah pada tahun 2020 harus berganti pasangan lagi, yakni dengan Tegas Satriaji Hutomo. Pada saat meraih juara dunia junior (2018) pasangan Leo/Indah dianggap sebagai “underdog” (tak diunggulkan). Namun dia bertekad merebut juara. Bahkan dia bernazar, kalau meraih juara akan berjalan kaki dari lokasi pertandingan Markham Pan Am Ontario ke Sheraton Hotel tempat mereka menginap.

Setelah benar-benar juara, Indah pun menyampaikan nazarnya itu ke pelatih David Pohan. Semula sang pelatih menolak, tetapi kemudian direstui. Apa boleh buat, Pelatih David Pohan dan Ketua Bidang Pembinaan Prestasi PP PBSI Susy Susanti, rekan pasangannya Leo Rolly Carmando serta Stephani Widjaya terpaksa ikut mendampingi Indah yang berjalan kaki sejauh 8,5 km.

Baca Juga:  Komunitas GHB Juara 1 Inovasi Daerah di Pangkep

“Aku jalani karena sudah janji (nazar). Pas saat itu di Kanada sedang musim dingin. Kami foto-foto sambil singgah makan-makan, tahu-tahu sudah sampai. Plek (maksudnya mungkin otot-otot kaki) rasanya mau copot,” Indah mengenang seperti dilansir salah satu media daring.
Indah ditangani sedikitnya empat pelatih, yakni Rudy Gunawan, Anggun Nugroho, Amun Sunaryo, dan Vita Marissa. Keberhasilan Indah merebut juara dunia di Kanada membuat PB Djarum menggaetnya. Maka tak heran pada PON XX/2021 Papua, putri Bone Sulawesi Selatan ini akan berada di bawah kibaran bendera kontingen Jawa Tengah.

Permainan net Indah selalu mendapat ujian, hingga dia dianggap sebagai “Huang Yaqiong”-nya Indonesia. Huang adalah pemain Tiongkok yang sangat piawai bermain net.

Cewek dengan tinggi 164 cm ini selama mengikuti pelatnas terpaksa menempuh “home schooling” (sekolah di rumah) untuk tingkat SMA dan sudah tamat. Dia tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi karena lebih memilih fokus pada bulutangkis.

Dari empat bersaudara, hanya kakak pertama Riskianto Wiguna yang tidak senang pada bulutangkis. Kakak kedua dan ketiga, juga senang bulutangkis meskipun tidak tuntas seperti dirinya. Pasangan Jamil-Amriati Rauf memiliki dua pasang anak, anak pertama dan kedua cowok, sementara yang ketiga dan keempat cewek.

Selama Ramadan, Indah yang senang membaca buku-buku motivasi ini tetap menjalani latihan sesuai yang diprogramkan pelatih. Enam hari dalam seminggu dia berlatih dan hanya iibur pada hari Ahad. Latihan dimulai pukul 07.00-11.00 atau 11.30. Pada sore hari dilanjutkan lagi pada pukul 15.00 s.d. 17.00.

“Saya terus berlatih. Selama Ramadan ini belum ada libur yang bisa saya gunakan untuk menjenguk orang tua,” juara dunia junior dan juara junior Asia yang mengidolakan Lilyana Nasir (Butet) dan memiliki warna kesukaan biru tua ini mengakhiri perbincangan. (M.Dahlan Abubakar, Tokoh Pers)..

Share :

Baca Juga

Sulsel

Buka Muscab HNSI Makassar, Munafri Tegaskan Perhatian Pemkot pada Ekonomi Pesisir

PINRANG

Bupati Pinrang Serahkan Secara Simbolis Kendaraan Operasional Pendukung Koperasi Merah Putih

Sulsel

Munafri Tepati Janji Politik: Beban Warga Diringankan, 9307 KK Tamalate Bebas Iuran Sampah

Sulsel

Tampil Tak Terkalahkan, Wajo Lolos ke Perdelapan Final Piala Gubernur 2026

Sulsel

Sudah 5123 KK Penerima Iuran Sampah Gratis di Kecamatan Panakkukang

Sulsel

Wali Kota Munafri Perluas Penerima Sampah Gratis di Tamalanrea

SOPPENG

PWI Sulsel Sinergi Bersama RRI, TVRI, dan ANTARA demi Dorong Pemberitaan Berkualitas

Sulsel

Tim Baksos IARMI Sulsel Bantu Sandang dan  Sembako Warga  RW 4 Kompleks Kusta Jongaya Makassar