MEDIASINERGI.CO MAKASSAR — Prestasi yang dicapai Indah Cahya Sari Jamil termasuk sangat spektakuler. Dari nama yang semula sama sekali tidak dikenal orang, bungsu dari empat bersaudara yang dilahirkan di Watampone Bone,16 Maret 2002 ini langsung menghentak belantara bulutangkis nasional, bahkan dunia.
Dalam usia 16 tahun (2018) dia menyabet gelar Juara Dunia Junior (World Junior Championship) Bulutangkis di Markham, Kanada pada nomor ganda campuran. Pada tahun berikutnya (2019) pada Kejuaraan Junior Asia di Suzhou, Tiongkak, anak pasangan H. Jamil-Amriaty Rauf ini kembali memperlihatkan keperkasaannya.
Dia juara lagi pada nomor spesialisnya, ganda campuran. Dia juga meraih juara dunia di Duth dan German Open.
Bagaimana perjalanan Indah hingga mencapai prestasi yang gemilang ini bisa saya ungkap dan bermula?. Kamis, 23 April 2021, saya bertandang ke kediaman Prof.Dr.Hamid Awaluddin di Kompleks Unhas Jl. Sunu, untuk bersilaturahim karena sudah lama tidak bertemu. Saya juga menghadiahkan tiga buku yang saya anggap sangat fenomenal, yakni “Satu Abad PSM Mengukir Prestasi” (2020), “Mengenang Setahun Kepergian Prof.Dr.Ir. Radi A.Gany:
Raibnya Cincin Permata Ungu” (2021), dan “Data dan Fakta Hak Angket DPRD Sulsel” (2021). Setelah berceria “ngalor ngidul” tentang banyak hal, termasuk isi testimoni beberapa tokoh yang bakal dimuat di dalam buku otobiografi saya, Prof. Hamid mulai membuka-buku buku sejarah PSM yang saya berikan. Rupanya, setelah menanyai saya beberapa nama pemain lama PSM, termasuk menjelaskan “trio Parepare” (Tahir Yusuf, Faisal Juruf, dan Djamal Yusuf) yang kemudian baru saya ketahui, guru besar Fakultas Hukum Unhas ini pun ingat dan meminta saya agar menulis seorang bintang bulutangkis junior Sulawesi Selatan asal Bone yang sedang bersinar di Pelatnas PBSI Cipayung Bogor Jawa Barat. Dia adalah Indah Cahya Sari Jamil, yang pernah diterima khusus oleh M.Jusuf Kalla ketika menjabat Wakil Presiden RI pada tahun 2018 atas jasa baik Prof. Hamid juga.
“Darah jurnalistik” saya mendidih begitu mendengar informasi ini. Saya juga berjanji akan mewawancarai Indah dan juga Jamil ayahnya. Nomor kontak indah pun saya peroleh dari Prof. Hamid. Setiba di kantor KONI Sulsel saya mengontak Atmam Amir, Sekretaris Umum PBSI Sulawesi Selatan, guna memperoleh nomor kontak H.Jamil, ayah Indah. Setelah Pak Atmam mengirim nomor telepon tersebut, ternyata Indah juga mengirimkan nomor telepon ayahnya melalui whatsapp yang saya minta sebelumnya.
Usai salat tarawih dan bertepatan dengan selesai laga PS Sleman melawan PSM yang berakhir 2-1 sekaligus menggagalkan kesebelasan “Juku Eja” meraih juara III, wawancara dengan Indah pun saya lakukan melalui telepon. Ahad (25/4/2021) siang, giliran ayahnya yang saya wawancarai juga melalui telepon.
Harus “Bergaul dengan Macan”
Jamil yang angkatan 1984 masuk di IKIP Ujungpandang (Uiversitas Negeri Makassar sekarang) bersama Dr.Abraham Razak (am,) dan Dr.Addien, M.Kes, memang termasuk salah seorang pemain bulutangkis Sulawesi Selatan. Dulu dia pernah hampir memperkuat Sulawesi Selatan ke PON di Jakarta, tetapi membayangkan lawan yang harus dihadapi ketika itu adalah mereka yang malang melintang di kejuaraan nasional dan internasional sekelas Alan Budikusuma dan Joko Supriyanto, dia akhirnya memutuskan mengurungkan niatnya.
“Bagaimana kita mengalahkan mereka yang juara-juara semua,” kata Jamil yang pada PON XII menjadi pelatih atlet, termasuk Ilham yang kemudian menjadi pelatih anaknya di PB Rajawali Isvil Tangerang.
Bermodal pengetahuan kepelatihan yang diperolehnya secara akademik di UNM dan melalui pengalaman bermain dan melatih, ketika Indah duduk di kelas 3 SDN 10 Manurunge Watampone pada tahun 2010, Jamil memoles anaknya. Dia merancang program pelatihan bagi putri bungsunya itu.
Indah sebenarnya tidak sendiri menyukai bulutangkis, tetapi kakaknya yang kedua, Rian Ramadhan dan ke-3, Adita Nurjuwita, juga menyenangi olahraga tangkis bulu ini. Seiring berjalannya waktu, hanya Indah yang serius dan menekuni olahraga ini hingga sekarang.
Jamil berusaha merendahkan diri soal rekam jejaknya sebagai pemain bulutangkis pada awal-awal wawancara yang berlangsung sedikit tersendat-sendat. Pria berusia 57 tahun ini belum :turn in” (tepat, pas) memberikan beberapa jawaban atas pertanyaan saya.
Ketika saya menyebut dirinya adalah guru olahraga, Jamil pun mulai menungkapkan rekam jejak perjalanannya sebagai pelatih dan pemain bulutangkis. Dia mengatakan pernah melatih bulutangkis bersama mendiang Dr.Abrahm Razak, M.Kes,, termasuk juga kuliah satu angkatan dengan Dr.Addien karena sama-sama masuk di IKIP Ujungpandang kala itu..
“Keduanya boleh dikatakan sebagai saudara,” ujar ayah empat anak ini.
Setelah melihat keseriusan Indah berlatih, Jamil melihat bahwa putrinya harus diberi perlakuan khusus. Yang harus dia pikirkan, bagaimana putrinya masuk Jawa untuk menjadi “singa harus bergaul dengan singa”, istilah yang dia berikan sebagai metafora guna meraih prestasi maksimal yang dia bidik bagi putrinya. Kebetulan juga di Tangerang Banten, ada Ilham, pria yang pernah dia latih ketika PON XII. Antara tahun 2014-2915, saat Indah terbang ke Jawa, Ilham sedang melatih di PB Rajawali Isvil Tangerang,
“Mau sekolah atau bulutangkis?,” Jamil bertanya saat putrinya baru sebulan duduk di kelas 1 SDN 10 Manurunge Watampone.
“Saya mau bulutangkis,” jawab Indah dengan tegas.
“Jangan setengah-setengah,” ayahnya mengingatkan.
Jamil melihat, anaknya memiliki kemauan keras menggeluti olahraga buluangkis. Setiap diberikan program latihan dia lakukan dengan baik. Begitu tamat SD, Jamil pun memboyong putrinya yang baru sebulanduduk di kelas 1 SMP Negeri 1 Watampone, ke Jawa karena dia sangat maklum jika tetap di Sulawesi Selatan tidak akan berkembang. Apalagi, Jamil lama “bertualang” dan merajalela di berbagai ajang bulutangkis di Sulawesi Selatan sangat tahu itu. Sekitar sepuluh tahun dia geluti cabang olahraga ini.
“Prinsipnya, kalau mau jadi macan, harus bergaul dengan macan. Kalau di Makassar tidak bisa. Paling-paling juara begitu-begitu saja. Kita yang terkadang jadi korban,,”Jamil menganalogikan prestasi yang harus dicapai putrinya.
Kali pertama Indah dibawa, terlibat dalam semacam audisi. Hasilnya ternyata tidak begitu menggembirakan. Namanya juga audisi selalu ada pengaruh nonteknis. Padahal, Indah tidak pernah kalah dalam pertandingan audisi itu. Nama Indah hilang dari deretan yang lolos audisi. Melihat realitas tersebut, Jamil hanya meminta anaknya bersabar.
Ketika itu, ada juga satu klub yang hendak dimasuki Indah. Namun, semangat Jamil memasukkan anaknya ke klub tersebut terhenti karena diminta harus membayar iuran Rp 5 juta per bulan. Dana sebesar ini termasuk berat bagi seorang guru yang hanya ingin melihat anaknya berhasil dengan kemampuan dirinya sendiri. Jamil membawa Indah ke klub itu karena awalnya tidak lolos dalam audisi untuk memasuki klub PB Djarum.
Di tengah kebingungan dengan syarat di klub tersebut, Jamil pun mengirim Indah berlatih di PB Rajawali Irvil, tempat Ilham yang pernah dia latih pada saat PON XII sebagai melatih. Ilham juga anak Sulawesi dan pernah menjadi pemain Sulsel dan dilatih Jamil bersama Abraham Razak.
















