Saya sangat kehilangan atas kepergian Tryman. Sedih kehilangan sahabat dan mentor sekaligus. Saya yakin perasaan kehilangan itu juga dirasakan kalangan pers dan perfilman Indonesia pada umumnya.
Sikapnya egaliter dan berkawan dengan banyak orang dari banyak kalangan, meskipun dalam posisinya sebagai pemimpin redaksi media besar.
Di dunia film Tryman sudah mencapai tingkat ketokohan yang dihormati masyarakat film. Sudah berkali – kali menjadi juri FFI pada saat saya yang baru mulai menjadi wartawan berkenalan dengannya. Namun sejak perkenalan itu praktis kami langsung menjalin persahabatan.
Tryman lah yang menjadi penopang utama di masa saya menjabat Ketua Humas FFI ( Festival Film Indonesia) dan FSI (Festival Sinetron), tiga priode di masa Harmoko memjadi Menteri Penerangan. Tryman seangkatan dan teman gaul Harmoko yang kelak menjadi Menteri Penerangan tiga priode di masa pemerintahan Presiden Soeharto. Tryman juga mengakrabi kehidupan “Seniman Senen ” yang sangat terkenal di Jakarta, tempat berkiprah tokoh -tokoh yang kelak berkibar di dunia kesenian dan perfilman Indonesia. Sebut aktor Soekarno M Noer dan Haji Misbach Jusa Biran, misalnya.

Surat-Surat Nyasar
Karya Setiadi Tryman dalam karir sebagai wartawan antara lain ” Surat -Surat Nyasar”. Kumpulan tanya jawab dalam rubrik di Harian Sinar Harapan itu telah dibukukan dan mengamali cetak ulang berulang -ulang. Di dunia film selain menulis banyak skenario film, seperti disebut di awal tulisan ia aktif menjadi juri Festival Film Indonesia ( FFI).
Atas permintaannya setelah pensiun, Surat-Surat Nyasar itu dilanjutkan pemuatannya di Tabloid Cek& Ricek. Sempat terbit beberapa tahun sampai Tryman sendiri menghentikan karena tidak punya waktu banyak lagi untuk mengisinya secara rutin. Surat-Surat Nyasar di Sinar Harapan maupun di Tabloid C&R menggunakan logo karikatur wajah Setiadi Tryman.
Setiadi Tryman lahir 27 Juli 1936 di Demak, Jawa Tengah. Setamat SMA, ia melanjutkan kursus manajemen, seni drama HBS di Solo (1955), ATNI di Solo (1957) dan Workshop film Directing (KFT). Sebelum terjun ke dunia film menjadi wartawan. Dari Berita Indonesia (1960), Sinar Harapan (1962-1986), kemudian memimpin surat kabar Suara Pembaruan. Anggota Dewan Film Nasional ini juga merupakan wartawan anggota PWI yang terjun pertama kali di dunia film. Ia aktif sejak tahun 1964 sebagai penulis skenario.
Kini Setiadi Tryman, sahabat yang sekaligus mentor itu telah pergi mendahului. Selamat jalan sahabat senior dan mentor kami. Semoga Tuhan memberimu tempat lapang, nyaman, dan indah di sisiNya.(*)
















