Home / Sulsel

Sabtu, 25 Desember 2021 - 14:44 WIB

Menegur dan Menasehati Ala Cucu Rasulullah SAW dan Umar bin Khattab

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.” (QS 20, Surah Taha, ayat 43-44)
Jadi terhadap orang yang telah melampaui batas pun, Allah SWT memerintahkan kita mengingatkan, menegur dengan lemah lembut.

Teguran Hasan dan Husein Hasan dan Husein mencontohkan etika menegur yang baik. Dua cucu Rasulullah SAW ini mendapati seseorang tidak berwudhu dengan baik. Keduanya lalu menghampiri orang itu.
“Pak, saudaraku ini mengaku wudhunya lebih baik daripada wudhuku, padahal aku merasa wudhuku sudah seperti yang dilakukan Rasulullah SAW. Sekarang, tolong beri penilaian mana yang paling baik, wudhuku atau wudhunya?” kata Hasan.

Keduanya lalu sama-sama berwudhu seperti wudhu yang biasa dilakukan Nabi SAW. Selesai berwudhu, keduanya menanyakan ihwal wudhunya kepada lelaki itu. Merasa salah dalam berwudhu, lelaki itu pun berkata, “Demi Allah, saya sudah tidak berwudhu seperti yang dilakukan Anda berdua.”

Teguran Umar kepada Amr bin ‘Ash
Suatu ketika di Madinah, Khalifah Umar bin Khattab tengah duduk bersantai dan datanglah seorang kakek Yahudi. Ia berasal dari Mesir menghadap Umar guna mengadukan persoalan kehidupannya.
Ia lalu bercerita bahwa Gubernur Mesir, Amr bin ‘Ash, telah menggusur paksa rumahnya dan di bekas tanah rumahnya itu dibangun sebuah masjid yang mewah. Masjid itu dibangun di samping istana Amr yang megah.

Baca Juga:  Dinsos Sulsel Gelar Ziarah Wisata ke Makam Sultan Hasanuddin

Kakek Yahudi itu tak mau rumahnya digusur, meski Amr memberikan penawaran harga yang besar. Si kakek menolak rencana Amr mentah-mentah, tapi Amr tetap menggusur rumahnya dan membangun masjid.

Kepada Umar, dia pun berkisah bahwa rumahnya dibangun dari hartanya sendiri dan begitu banyak kenangan hidupnya bersama gubuk tua itu.

Mendengar pengaduan tersebut, wajah Umar memerah menahan marah. Dia pun meminta kakek Yahudi itu untuk mengambil tulang belikat unta dari tempat sampah. Umar kemudian menggores tulang tersebut dengan huruf alif yang lurus dari atas ke bawah.

Di tengah goresan lurus, dia membuat satu goresan melintang menggunakan ujung pedang. Tulang itu pun diserahkan kembali kepada si kakek untuk diberikan kepada Amr.
Si kakek kebingungan ketika diminta untuk membawa tulang itu untuk sang gubernur. Dia tak paham apa yang hendak ditunjukkan Umar lewat sepotong tulang.

Sesampainya di Mesir, kakek itu pun menghadap Amr bin Ash dengan tulang bergores pedang pemberian khalifah. Melihat tulang itu, wajah sang gubernur pucat pasi.

Tanpa menunggu lama, dia mengumpulkan rakyatnya untuk membongkar kembali masjid yang sedang dibangun dan membangun kembali gubuk yang reot milik orang Yahudi itu.
“Bongkar masjid itu!” teriak Amr bin Ash gemetar.
Kakek Yahudi keheranan, dan kemudian berteriak, “Tunggu!”
Si kakek meminta Amr untuk menjelaskan makna di balik tulang dari Umar. Gubernur lalu menjelaskan bahwa tulang ini merupakan peringatan keras dari Khalifah.
Lewat tulang itu, Umar seolah hendak mengingatkan, apa pun pangkat dan kekuasaan seseorang suatu saat akan bernasib sama seperti tulang ini yakni mati dan menjadi tulang belulang.
“Karena itu bertindak adillah kamu seperti huruf alif yang lurus. Adil di atas dan adil di bawah. Sebab kalau kamu tidak bertindak adil dan lurus seperti goresan tulang ini, maka Khalifah tidak segan-segan untuk memenggal kepala saya,” jelas Gubernur Amr bin ‘Ash.

Baca Juga:  Pemkab Pinrang Gelar Peringatan Hari Amal Bhakti Kementerian Agama ke 77

Orang Yahudi itu tunduk. Ia terkesan dengan keadilan dalam Islam. Ia pun kemudian mengikhlaskan tanahnya untuk pembangunan masjid, dan mengucap syahadat. Kakek Yahudi keras kepala itu pun lalu masuk Islam.

Kesimpulannya, pertama, kalau kita melihat kemungkaran, kesalahan, maka berilah peringatan, kecuali kalau memang tidak bisa karena takut.

Kedua, kalau menegur lakukanlah secara tidak langsung seperti yang dilakukan Hasan dan Husein, cucu Rasulullah, dan juga seperti yang dilakukan oleh Umar bin Khattab. Ketiga, kalau pun kita menegur dengan kata-kata, maka bicaralah dengan lemah lembut.(**)

Share :

Baca Juga

Sulsel

Respons Isu Hibah Rp15 Miliar, Ketua KONI Makassar: Sudah Sesuai Aturan dan Disetujui DPRD

Sulsel

Ketua TPAD Makassar: Hibah KONI Legal, Sesuai Seluruh Mekanisme dan Regulasi

Sulsel

Merajut Sinergi Shelter Warga dan Bhabinkamtibmas Satukan Langkah untuk Masyarakat

Sulsel

Hadiri Panen Raya Tebu TNI, Wabup Takalar Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Sulsel

Kecamatan Ujung Pandang Gencarkan Gerakan Zero Sampah di Pulau Lae-Lae

Sulsel

Reses Ketua DPRD Wajo di Padduppa Berlangsung Interaktif, Warga Sampaikan Aspirasi Jalan, Drainase, hingga Pelayanan Publik

Sulsel

Reses AD Mayang Diserbu Ratusan Warga, Jalan Paria – Tosora Jadi Aspirasi Utama

Sulsel

Reses, Mustarin Serap Aspirasi Warga, Dorong Infrastruktur, Pemberdayaan Ekonomi hingga Akses Pendidikan Melalui PIP