Penanda-penanda simbolis batas kota di jalan sudah hilang, kecuali marka di jalan tol, yang menyatakan kita telah tiba di suatu tempat. Hampir tidak ada kesan seperti ketika Ernie Djohan mungkin menyaksikan kekasihnya melambaikan tangan ketika kapal bergerak dari Teluk Bayur menuju Tanjung Priok. Saat ini dengan adanya jalan tol, setiap pekan orang yang bekerja di Jakarta dapat pulang ke Semarang, bahkan Surabaya, padahal dulu penglaju hanya mereka yang tinggal di Depok, Bekasi, atau Tangerang.
Di Eropa bahkan batas negara pun dihapus. Kita bisa berangkat dari Jerman ke Belgia, Belanda, tanpa tahu telah masuk ke negara lain. Ini pula yang menyebabkan adanya perselisihan di antara anggota Uni Eropa karena imigran gelap yang lolos ke negara yang perbatasannya lemah, bisa melenggang ke negara lain. Konflik antara Belarusia dengan Polanda sedang hangat saat ini karena yang satu justru seperti menyuruh imigran lewat ke negara yang lebih makmur, dengan tujuan menggoyang stabilitas tetangganya. ***
Dulu di batas kotalah airmata jatuh berlinang, kini mungkin tinggal di bandar udara, meski tentu berbeda-beda. Kepergian berangkat haji dengan kapal laut sampa tahun 1970-an, selalu diantar puluhan kerabat dan tetangga karena baru sekitar tiga bulan lagi mereka akan bertemu. Suasana penuh haru, bertangisan seperti tidak akan bersua lagi.
Kini, mungkin hanya satu-dua kekasih, pasangan suami istri, orangtua dan anak yang pergi belajar ke luar negeri, yang mengeluarkan airmata, saat berpisah di bandara. Tapi karena teknologi, begitu tiba di negara lain pun segera bisa video call, bisa menatap wajah. Tidak ada lagi serunya. Rindu bisa sedikit terobati.
Tetapi apakah rasa kangen, keinginan berjumpa bisa benar-benar teratasi teknologi, tentu tidak.
“Aku ingin menyentuh tanganmu, mengusap wajahmu,” kata Budi dalam hati.
“Tak sekadar melihat senyum dan lambaian tanganmu.”
Setiap kali dia masuk ke dalam pesawat melalui garbarata saat itulah rindunya segera muncul, entah karena ingin segera bertemu, atau karena harus berpisah beberapa hari. Dia seperti memasuki batas kota, saat bergerak dari bangku ruang tunggu ke bangku pesawat yang akan membawanya terbang. Tidak ada peluit kapal, tidak ada tugu di tepi jalan raya.
“Aku merindukan bau keringatmu, ingin mencium wangi rambutmu,” desahnya.
Lalu dia akan ambil kamera, selfie, mengirimkannya, dan mengetik kata “I love you..” dan tak lama dibalas “ Miss you. Love you toooooo.”
Padahal ketika itu mungkin dia melirik ke pramugari cantik yang tengah mengatur penumpang yang bingung mencari nomor kursinya atau penumpang lewat yang parfumnya menyebarkan wangi semerbak.
Dia senyum sendiri. “Ah, lelaki. Seratus meter ke luar dari rumah, pikirannya pasti melayang-layang entah kemana.” Begitu sadar dia berucap, Astaghfirullah.
Batas kota kini juga ditandai dengan makanan-makanan. Ketika mencium bau rempah dari makanan yang tengah dimasak, Budi mengerti dia sudah dimana.
Ruap kuah yang dibawa angin, harum ikan yang tengah dibakar atau bebek yang di goreng, hmmm, aku kini sudah ada di anu, katanya segera. Atau karena harum kopi yang baru diseduh. Buah durian yang dibuka kulitnya. Semua menjadi penanda-penanda yang membuahkan rindu untuk kembali datang bila ada kesempatan berikutnya.
Menjadi pulang lalu bersifat nisbi. Ketika pergi dia ingin pulang ke rumah dan bercengkerama lagi dengan keluarga. Ketika duduk di meja kerja kerinduan untuk berkunjung ke tempat yang memberi kesan, berkecamuk di dalam hatinya. Tidak ada pulang, yang ada hanya menembus batas kota-kota, yang kian indah bila bersamaan dengan senja. Segera terngiang-ngiang suara merdu Ernie Djohan
//Senja di batas kota/S’lalu teringat padamu/Saat kita kan berpisah/Entah untuk b’rapa lama//Walau senja berganti/Wajahmu s’lalu terbayang/Waktu engkau kulepaskan/Berdebar hati di dada//…
Budi memejamkan matanya untuk menikmati sore yang indah.(***)









