Masih menurut Mantan Sekcam Sajoanging ini, pihaknya sangat terbuka dalam menerima kehadiran wartawan di daerahnya. Harapannya, kehadiran teman-teman Wartawan bisa menjadi sharing partner sekaligus menjadi sosial kontrol dalam menjalankan roda pemerintahan, pembangunan, dan kemasyarakatan di Bumi Tosagenae ini.
Lagi dan lagi, pada sesi tanya jawab terungkap bahwa hadirnya oknum-oknum yang berpraktek seolah-olah Wartawan Profesional menjadi keluhan bagi Kelurahan, Kepala Desa dan Kepala Sekolah.
“Kami kerap didatangi oleh oknum-oknum yang mengaku Wartawan, banyak hal yang ditanyakan bahkan terkadang mengungkit-ungkit sesuatu yang tidak terkait dengan tugas wartawan, lalu ujung-ujungnya meminta uang saat mau pulang, ” Kata Seorang Kepala Desa
Masih menurut Kepala Desa yang baru sekitar enam bulan menjabat ini, kondisi tersebut membuatnya bertanya seperti inikah tugas dan pekerjaan Wartawan ???
Terhadap kondisi ini, Ketua PWI kabupaten Wajo menekankan agar tidak membiasakan diri untuk memberi sesuatu kepada Wartawan.
“Coba-coba untuk membiaskan diri untuk tidak memberi sesuatu kepada Wartawan ketika itu terkait dengan pemberitaan, ” tegasnya.
Menurutnya menjamurnya oknum-oknum seperti itu ibaratnya “Gayung Bersambut” mereka selalu datang karena kita juga selalu memberi.
Sesi lain kegiatan Safari Jurnalistik ini di kecamatan Belawa Kabupaten Wajo diakhiri penyerahan bantuan dana dari Pengurus PWI Kabupaten Wajo kepada salah satu Rumah Tanfiz Qur’an di Desa Lautang, Kecamatan Belawa.
Keluhan yang sama kami dapatkan pada hari kedua dan ketiga Safari Jurnalistik PWI Kabupaten Wajo di kecamatan Sabbangparu, Pammana dan kecamatan Penrang dan Keera.
Hampir semua Mitra Kerja mengeluhkan mengeluhkan hadirnya komunitas “Wartawan Bodreks” yang kerap membuat puyeng Kepala Desa dan Kepala Sekolah.
Kami sebut dengan sebutan komunitas karena mereka bekerja secara berkelompok dan silih berganti. Bahkan kata seorang Kepala Sekolah di Sabbangparu mereka seakan-akan tahu kapan waktunya harus datang.
“Ya, mereka sepertinya sudah tahu jadwal pencairan dana BOS, kemudian datang menanyakan berbagai hal, bahkan terkadang mereka juga meminta laporan pertanggung jawaban dana BOS, ” ujar Kepala Sekolah tadi.
Yang menarik, cerita seorang Kepala Desa, menurutnya, suatu waktu ia didatangi sekelompok Wartawan dengan mengendarai mobil, saat itu ia harus keluar karena suatu urusan shingga ia tidak sempat untuk melayani Wartawan tadi.
Lanjut Kepala Desa tadi, saat pulang sore harinya ia terkejut karena melihat wartawan yang mendatanginya tadi pagi ternyata masih ada di kolong rumahnya, bahkan katanya sempat tidur disitu.
Andi Wana Nganro, Camat Sabbangparu pun bertanya adakah trik khusus untuk membedakan Wartawan Profesional dengan Wartawan Abal-abal ??
Terhadap kondisi ini, Ketua PWI kabupaten Wajo, H.Rukman Nawawi merasa sangat prihatin.
“Jika dibaratkan dengan penyakit, kondisi ini sudah menjadi penyakit kronis. Diana-mana keluhannya sama, ” ujarnya.
Untuk.mengenali atau membedakan Wartawan Profesional dengan Wartawan Abal-abal Ketua PWI pun berbagi trik.
Menurutnya, untuk mengenali Wartawan Profesional dengan Wartawan Abal-anal maka yang pertama harus dilihat adalah karya jurnalisnya. Wartawan Profesional dengan gampang bisa menunjukkan karya jurnalistiknya, berbeda dengan Wartawan Abal-abal tentu akan kesulitan untuk menunjukkan karya jurnalistiknya, bahkan terkadang hanya mampu menunjukkan koran atau.majalah yang sudah kadaluwarsa.
“Ciri Fisik yang bisa membedakan Wartawan Profesional dengan Wartawan Abal-abal adalah Wartawan Profesional setidaknya mengantongi tiga jenis kartu, yakni kartu lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW), Kartu Identitas dari Organisasi Kewartawanan yang menaunginya semisal PWI, AJI, IJTV, dan yang terakhir Wartawan Profesional wajib mengantongi kartu dari media tempatnya bekerja, ” Pungkas H.Rukman (***)
















