OTT sebagai alternatif
Pandemi Covid19 merupakan tahun kelabu bagi banyak produser film bioskop. Tak hanya di Indonesia, melainkan di seluruh dunia.Namun, pandemi itu pula yang mendorong sebagian produser untuk lebih serius mendalami bisnis platform OTT yang lagi tren di dunia entertainment. Manoj mengatakan pelabuhan utama film produksinya tetap bioskop. Tapi pengalaman pandemi Covid19, memberi pelajaran berharga. Dari semula pesimis hingga termotivasi untuk mencari jalan keluar di platform OTT itu.
“Selama pandemi, kita tetap bisa syuting dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Namun tidak ada yang bisa menjamin film bisa tayang di bioskop. Tahun 2020 ada banyak produksi yang siap tayang, tapi operasional bioskop bergantung keputusan pemerintah. Kalau kemudian pemerintah membolehkan, eh, giliran penontonnya yang masih takut ke bioskop,” ujarnya.
Maka, MD pun menggenjot produksi webseries untuk penayangan di kanal Over The Top ( OTT). Dua tahun ini MD total sudah memproduksi 38 judul. Untuk platform WeTV dia memproduksi 13 judul webseries. Yang sudah tayang 8 judul sampai dengan awal 2022.
Salah satu webseriesnya untuk WeTV yang sukses adalah “Layangan Putus” (produksi 2021) yang ditonton lebih dari 15 juta kali dalam satu hari penayangan. Serial itu dibintangi oleh Reza Rahadian, Putri Marino, Anya Geraldine, Marthino Lio, Frederica Alexis Cull, hingga Raquel Katie. Series itu viral dibicarakan di mana-mana. Ungkapan “It’s my dream not hers” ditiru dari orang tua sampai bocah. Cucu-cucu saya sehari-hari sering meniru ungkapan itu, entah tahu dari mana.
Selain di WeTV, MD juga punya kerjasama dengan TV Disney + Hotstar (Direct To OTT). Sudah 17 judul produksinya yang ditayangkan di chanel OTT dunia itu.
Makanya, tatkala sejumlah produser film repot mengurus subsidi biaya promosi dari pemerintah, dia tenang tenang saja.
“Kami memang tidak tertarik bantuan dana itu,” kata Manoj Rabu 23 Februari 2022 siang yang saya hubungi pertelepon. Kabarnya subsidi promosi film yang berasal dari dana PEN ( Pemulihan Ekonomi Nasional ) yang disalurkan oleh Kementerian Pariwisatan dan Ekonomi Kreatif sudah terhenti pula. Ada sekitar 10 perusahaan yang sempat menerima masing-masing Rp.1,5 M. Dari catatan yang ada belum satu film pun yang mendapat subsidi itu sukses dalam penayangan di bioskop. Sekjen PPFI ( Persatuan Perusahaan Film Indonesia), Zairin Zain, mengaku tidak tahu menahu subsidi biaya promosi itu.
“PPFI sejak awal tidak dilibatkan. Aturan mainnya pun tidak tahu, ” kata Zairin. Dua bulan lalu, ia memang sempat mendengar ramai diberitakan kisruh penyaluran dana itu. Sebagian seniman film menentang karena tidak tepat sasaran. Penerima bantuan banyak dari kalangan produser yang sebenarnya mampu. Kalangan penentang itu pun meminta pemerintah menghentikan program yang hanya menunjukan ketidakadilan, selain rawan penyimpangan. Adakah sebab itu dihentikan pemerntah, entahlah. Wallahu’alam bissawab.(**)
Editor: Manaf Rachman
















