Peserta kali ini memeroleh sarana pendukung operasional Tagana setelah melakukan Pemantapan oleh Instruktur dari kalangan TNI dan Instruktur yang sangat mumpuni dibidangnya, sebagaimana foto dokumentasi yang tercatat rapih di Tagana Center Indonesia.
Adapun mereka yang mendapatkan rekomendasi dari Dinas Sosial Provinsi se-Indonesia yaitu :
Gambar Depan
1. Willeam Gasfer, SH (Kepulauan Riau) – Almarhum
2. M. Sugandhi (Maluku Utara)
3. Rajjas, B.Sw (Sultra)
4. John Swalette (Maluku)
5. Pitter Matakenna, SH (Kepri)
6. Aris Tabirawa, SST (Jambi)
7. Lutfi Faizalsyah (Sumut)
8. Hj. Yetti Kadarwati, SE (Kadinsos Jabar)
9. Drs. Amrun Daulay (Dirjen Bansos)
10. Drs H. Purnomo Sidik (Dir. BSKBA) – Almarhum
11. H. Dharma Nasution ( KU Rapi Pusat)
12. Gurmewa (Lampung)
13. Yoedhy S. Fakar (Sumsel)
14. Zefereno N.S ( Sulut)
15. M. Machfud (Kaltim)
16. Andi Mahmud (Sulteng)
17. BambangR.W (Bengkulu)
Gambar Tengah
1. Sirman Abas, SH (Babel)
2. Ir. Tarmizi (NAD)
3. Raden Sahi, SE (Gorontalo)
4. Wy. Jaya Arwana, SH (Bali)
5. Teguh Rahardjo (DIY)
6. Fitriyana Makmur, SP (Gorontalo)
7. Eliya, S.Sos (Sulteng)
8. Dwi Putri A (Lampung)
9. Drs. Aulia Ksatriadi (Riau)
10. Supriyadi (Kalsel)
11. Tita Tarina (Jabar)
12. N. Safei N, A.Ks MP (Jabar) – Direktur BSKBS
13. Zulyadini (NTB)
14. Eka Darmayanto, SE (Sumut)
15. Firmansyah (Sulbar)
16. Ahmad Jablawi (Kalsel)
17. Bambang W (Jateng)
18. Rahmat HT (Sulbar)
19. Nyoman Petrus SST (Bali)
20. Faridal L (Sumsel)
21. Muhlis Moed, AMK (Sulsel)
22. Yunus Ullo (Irjabar)
23. Jhon Rohi, ST (NTT)
24. M.Lukman, SE (Jambi)
25. Drs.H.Syakhruddin. DN (Sulsel) – Penulis
Gambar Belakang
1. Basrano (Sultra)
2. Ismet Layn ( Maluku)
3. Mardiansyah Bag (Kaltim)
4. Nano Sukarno (Riau)
5. Yoppi Tuan SH (NTT)
6. Ihman Faluti (NAD)
7. Ibrahim Darlay (Irjabar)
8. Felix Valentina (DKI)
9. Maya Fitria (Kalteng)
10. M. Sofi (DKI)
11. Baiq Iki SH (NTB)
12. Andre. S (Babel)
13. Edy Suwarno (Bengkulu)
14. Purwanto P.S.Sos (Jatim)
15. M. Yassin N.R (DIY)
16. Johannis S Wowor, S.Sos (Sulut)
17. Achmad Solihin (Kalteng)
18. Purwoto (Jateng)
19. Arso, S.Sos (Papua)
20. Drs. Urip Wahyudi (Papua)
21. Irwan (Maluku Utara)
Peserta pelatihan pemantapan kali ini, mendapatkan perlengkapan satu rangsel dan inilah menjadi cikal bakal perlengkapan Tagana se – Indonesia yang diperoleh setelah berjalan satu malam melalui jalan berkelok yang curam, sungguh sesuatu yang tak mudah.
Dimana Gunung Tangkuban Perahu menjadi saksi bisu dari jejak langkah relawan yang mengayunkan langkah dari Pukul 20.00 hingga 03.00 dinihari.
Dari Puncak Cikole Bandung – kami semua diperintahkan tidur telentang menengah ke langit menyaksikan bintang yang bertebaran di angkasa raya, sementara hembusan angin semilir dari pinus yang sedang bercengkrama dengan alam seputar, seakan menyaksikan kami yang 60 orang ini, sebagai saksi sejarah lahirnya TAGANA INDONESIA.
Kami seakan terhipnotis dari kalimat dengan suara bariton namun tegas dari Bapak Andi Hanindito mengatakan “Kalian adalah putra putri terbaik bangsa yang akan menjadi tonggak sejarah perjalanan Tagana ke depan, majulah … bangkitlah dan mengabdi pada Negeri hingga tetes darah terakhirmu.
Kebesaran Tagana dewasa ini, tidak terlepas dari mentor yang merupakan saksi hidup sekaligus Pendiri Taruna Siaga Bencana Indonesia (TAGANA) Bapak ANDI HANINDITO, M.Si Pembuat, Pencetus dan sekaligus Perintis Tagana di Indonesia.
Dalam suatu kesempatan di Hari Kamis 27 Agustus 2020, telah berbagi kisah melalui podcast episode ke-5 di Beranda Linjamsos Kementerian Sosial RI, di monitor anggota Tagana se-Indonesia, mulai dari Tagana Muda, Tagana Madya/Khusus, Tagana Utama hingga Perintis Tagana Indonesia.
Mengenang perjalanan sejarah berdirinya Tagana, Penulis Syakhruddin mengajak kita semua, menaruh hormat serta mengirimkan suratul Al-Fatihah, kepada Bapak Purnomo Sidik (Mantan Direktur Bencana Alam Kementerian Sosial).
Bapak Sutarso,M.Sw (Dosen dan Tenaga Ahli Bidang Kebencanaan/Pakar Bencana Alam Indonesia) beliau merupakan Guru Bencana yang paripurna, yang telah berkontribusi besar terhadap penumbuhan Tagana Indonesia.
Bapak Andi Hanindito yang penasaran dengan sistim penanganan bencana, terutama pada kasus banjir di Jakarta yang harus mengantar bantuan dengan “Mobil Rongsokan” telah menginspirasi dirinya, untuk belajar ke Singapura, Malaysia, Vietnam bahkan di Eropa, termasuk ke Uni Sovyet.
Hasil pengembaraan dan proses belajar secara mandiri di luar negeri. Dari pelajaran yang diperoleh, lalu membentuk “Pelatihan Relawan Bencana Indonesia” yang pada awalnya banyak orang yang meragukan kehadiran Tagana.
Sebagai Perintis Tagana Indonesia, termasuk dalam daftar 60 orang pada tahun 2004 dan Pemantapan tahun 2006 tentunya ikut bersama Panglima Tagana Indonesia, mendandani dan membesarkan Tagana Indonesia, dengan konsep pemikiran, penanganan bencana pada tiga klaster yaitu sebelum – saat dan sesudah bencana terjadi.
Diakui oleh Panglima Tagana Indonesia, ada tiga hal belum sempat diurus dimasa kepemimpinan sebagai Direktur Bencana Alam Kementerian Sosial RI yaitu,
(1) Sekolah Penanggulangan Bencana Indonesia, (2) Warkop Tagana (Menunya Indomie Tsunami, Kopi banjir, dll yang terkait dengan nama-nama bencana dan (3) Sistim Penanggulangan Bencana Indonesia Berbasis Masyarakat.
Karena penanggulangan bencana adalah tanggungjawab kita semua, maka setiap warga negara bertanggungjawab dalam penanganannya, mengingat Indonesia merupakan supermarket bencana.
Hal yang selalu mengusik perasaan Sang Panglima, bahwa dengan kerelawanan yang ada di Tagana, hendaknya Pimpinan Tagana di Salemba Raya 28 Jakarta, ke depan agar bisa lebih baik lagi,.
Terutama memperbaiki kesejahteraan dan jaminan kesehatan bagi anggota Tagana yang kini berjumlah 39.000 ribu anggota dan di tahun 2022 tentunya semakin berkembang apalagi bagi provinsi dan kab/kota yang melatih Tagana melalui APBD masing-masing.
Sebagaimana yang dilaksanakan Pemerintah Daerah Kabupaten Takalar yang telah melatih 60 personil Tagana baru melalui anggaran APBD Takalar bekerjasama dengan Batalion 726 Tamalatea, berlangsung tgl 25 sd 27 Pebruari 2022 dibawah koordinasi Tagana Utama Sulsel, Andi Abd. Rahman Sulo (Yogi) dengan Subhan alias Nanang.
Ditandaskan oleh Panglima Tagana Indonesia, bahwa Tagana yang dibentuk 24 Maret 2004 di Lembang Jawa Barat, serta Jambore Tagana yang berlangsung di Cibubur di akhir Desember, sementara bencana Tsunami terjadi 26 Desember 2004.
Bukan berarti Tagana dibentuk karena ada Tsunami, melainkan Tagana sudah lebih dahulu dibentuk, sebelum Tsunami datang, urai Panglima Tagana Andi Hanindito dalam dialog poscats Linjamsos episode 5.
Dijelaskan, tak banyak yang tahu bahwa ternyata “Sejarah Pembentukan Tagana Indonesia berawal dari kisah mobil rongsokan”
Pembentukan Tagana Indonesia diawali 16 tahun silam, masih banyak yang meragukan, tapi seiring berjalannya waktu dan bergantinya kepemimpinan, membuktikan bahwa Tagana merupakan bagian penting dalam sistim penanggulangan bencana di Tanah Air yang awalnya hanya 60 orang kini telah berkembang menjadi puluhan ribu Tagana terlatih dengan berbagai tingkat, Tagana Muda, Tagana Madya dan Tagana Utama.
Ulasan melalui potcast Linjamsos episode ke-5, telah memberikan pencerahan kepada segenap anggota Tagana dari Sabang sampai Marauke.
Semoga apa yang menjadi harapan Panglima, dapat kita kembangkan sesuai dengan kondisi dan situasi di daerah masing-masing.
Selamat kepada Panglima Tagana Indonesia, Bapak Andi Hanindito atas pencerahannya, kepada para rekan Perintis diharapkan untuk terus berkiprah, terutama dalam mewujudkan pengabdian melalui Sekolah Penanggulangan Bencana Indonesia dengan basis utama pemikiran pada kegiatan sebelum bencana.
Tahun 2023, Bapak Andi Hanindito akan memasuki masa purnatugas dari Kementerian Sosial, tetapi tidak dengan TAGANA, karena kami semua sebagai Perintis Tagana telah mempersiapkan sebuah Intitut Tagana di Jawa Timur dengan mentor utama Sdr. Akar dan Poerwanto di Surabaya.
Disana kelak, akan kita kembangkan pola-pola penanganan bencana berbasis masyarakat dengan berbagai varian kegiatannya. Kami semua bisa purnatugas dari sebuah institusi sosial atau apapun namanya, tapi tidak dengan TAGANA.
Bagi kami semua, telah berikrar tak akan berhenti sebelum tugas selesai, sebagai penjabaran motto “Pantang Tugas Tidak Tuntas” selamat menantikan, Hari ulang Tahun Tagana ke-18 tanggal 24 Maret 2022.(*)
















