“Yang kita butuhkan adalah Penceramah yang memiliki pandangan-pandangan yang moderat. Sementara Ust Firanda ini jika dilihat dari rekam jejaknya, sangat bertolak belakang,” pungkas Hasbi
Sementara itu, Kader GP Ansor Wajo, Muammar dalam keterangan persnya, Kamis (24/03/22), menegaskan, penolakannya atas rencana kedatangan Ustadz Firanda.
Menurutnya, aksi penolakan Ustadz Firanda ini sebenarnya menyangkut persoalan Manhaj atau metode berpikir Islam Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja), khususnya di Kabupaten Wajo yang selama ini banyak melakukan amaliah-amaliah, seperti pelaksanaan atau peringatan Maulid Rasul, Isra dan Mi’raj, 10 Muharram, dan acara-acara tasyakuran atau Barzanji.
“Namun hal ini bertentangan dengan konsep atau metode berpikir dari Dr Firanda, yang pemikirannya bisa menjadi masalah besar di Kabupaten Wajo dan ini juga menciderai karismah dari para ulama atau panrita yang ada di Wajo dimana tradisi ini sudah sejak lama kita jaga sudah sejak lama kita jaga dan sudah diwarisi dari generasi ke generasi,” ujar Muammar yang juga mantan Ketua Umum PC PMII Wajo ini.
Amalan-amalan ini pun, lanjut Muammar, juga ada dalil-dalilnya bukan hanya sekedar mempertahankan tradisi dari para kiai atau panrita kita. Ini hanya persoalan doktrin dari Dr Firanda dengan pemahaman yang terbatas sehingga KBNU Wajo mau mencegah supaya di Kabupaten Wajo tidak tersebar embrio-embrio Wahabi yang menurutnya, mereka Islam yang datangnya belakangan tapi nampaknya solehnya seakan sudah paling benar.
“Tidak nyambung kalau Dr Firanda dimasukkan di Wajo, dimana lumbung Ulama di sini bermazhab Syafi’i. Jadi kalau dimasukkan di sini bisa saja menjadi sebuah problem. Ini bukan persoalan apa yang disampaikan nantinya, tapi ini persoalan sikap dakwahnya Dr Firanda itu lancang karena ketika ngomong semaunya sendiri, seolah-olah kebenarannya hanya ada pada dirinya sendiri. Itu yang jadi persoalan,” tegasnya. (**)
Editor : Manaf Rachman
















