Kedekatan Abraham Samad dan Anies Baswedan sendiri diketahui memang cukup dekat bahkan terlihat saat meninggal ibunda Abraham Samad dengan adanya ucapan belasungkawa di rumah duka.
Posisi Abraham Samad sendiri menguat seiring kondisi kekinian. Dimana lembaga survei Indo Riset membeberkan perubahan kriteria calon presiden sesuai ketertarikan responden.
Secara umum, responden sekarang lebih suka terhadap presiden yang jujur dan bersih dari korupsi, menggeser kriteria pemimpin harus merakyat atau sederhana.
Hal tersebut dilihat dari hasil survei yang dilakukan pada 11-17 April 2022.
Selanjutnya, juga dijelaskan Direktur Indo Riset, Roki Arbi, responden diberikan pertanyaan mengenai kriteria presiden ke depannya.
Pertanyaannya adalah menurut bapak/ibu, manakah di antara hal-hal di bawah ini yang paling penting dimiliki Presiden Indonesia ke depan?
Berikut hasil survei dari responden sebagaimana yang dilansir dari salah satu media nasional:
• Kejujuran dan bersih dari korupsi: 39,4 persen
• Merakyat/sederhana: 20,9 persen
• Ketegasan dalam mengambil keputusan: 16,2 persen
• Prestasi/kinerja dalam memimpin: 8,4 persen
• Pengalaman memimpin sebagai kepala daerah: 7,1 persen
• Cerdas/pintar: 4,8 persen
• Lainnya: 2,7 persen
• Tidak tahu/tidak jawab: 0,4 persen.
Selanjutnya, pengamat politik dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Arya Fernandes, melihat telah terjadi pergeseran selera masyarakat dalam memilih calon pemimpin.
Pada pilpres yang lalu sosok yang sederhana dan merakyat merupakan kunci agar seorang capres dapat terpilih di dalam kontestasi.
“Makanya kemudian Pak Jokowi yang merepresentasikan pemimpin yang sederhana dan merakyat itu dapat memukau atau menarik perhatian publik,” ujar Arya.
Perubahan selera masyarakat ini, menurut dia, merupakan sesuatu yang positif.
Artinya, masyarakat melihat bahwa sosok pemimpin ke depan yang dibutuhkan adalah yang berintegritas, jujur, dan bersih dari korupsi.
“Saya kira ini kabar baik. Karena pemerintahan yang bersih, baik, berintegritas, itu memang sesuatu yang dibutuhkan untuk kepemimpinan ke depan,” tuturnya. (*)
Editor: Manaf Rachman
















