Adapun materi diskusi dari Willy Aditya, dia menyampaikan bahwa wakil rakyat saat ini kekurangan sosok penggerak sebab aktivis mahasiswa alergi dengan partai.
“Secara historis partai itu mayoritas isi kaum pergerakan, nah sekarang kaum pergerakannya minoritas itu yang menjadi konsen saya. Jadi kenapa? karena aktivis-aktivis mahasiswa sekarang alergi dengan partai,” ujar Willy.
Anggota DPR RI ini juga mengungkap terkait sejauhmana hasil pasca reformasi 1998. Salah satunya adalah partai politik yang saat ini dibentuk mengawal kesejahteraan rakyat.
“Kalau ditanya apa capaian reformasi, partai politik itu anak kandung dari reformasi. Kedua kebebasan pers, sebagai pilar demokrasi,” ungkap Willy.
Lanjut ia menjelaskan bahwa, partai merupakan kendaraan atau alat perjuangan yang mestinya dikendalikan oleh aktivis sebagai orang yang biasa hidup memperjuangkan hak rakyat.
“Secara asbabun nuzul partai itu kan alat perjuangan, kalau alat perjuangan tentu mereka yang biasanya berjuang membela hak-hak warga negara, membela agenda kewarganegaraan yang harusnya mengurus itu. Bukan artinya kita diskriminatif,” katanya.
Ia pun berharap jika kursi parlemen didominasi oleh para aktivis. Sebab kalau dominan tentu aura pergerakan akan terlihat. “Kalau itu dominan teman-teman bisa bayangkan aura pergerakannya,” pungkasnya.(jk)
Editor: Manaf Rachman
















