Home / Sulsel

Minggu, 22 Oktober 2023 - 09:03 WIB

Refleksi Hari Santri

DR Abdul Waris Ahmad M. HI

DR Abdul Waris Ahmad M. HI

Resiliensi Santri

Jika revolusi industry 4.0 melahirkan dunia yang dipenuhi dengan teknologi, maka society 5.0 melahirkan kembali dunia yang memanusiakan manusia dalam menyelesaikan masalah tanpa meninggalkan teknologi. Sebagai santri, mereka dituntut menguasai ilmu agama dan teknologi dalam waktu yang bersamaan. Posisinya hampir sama dengan santri yang menghadapi perang terdahulu, menguasai ilmu agama yang mungkin mudah bagi mereka. Namun, di sisi lain, harus memiliki kemampuan menaklukkan medan perang di zaman dahulu dan menundukkan kehebatan teknologi di zaman sekarang.

Menyelami revolusi society 5.0, tantangan globalisasi setidaknya mendorong semua pihak untuk mengembangkan nilai-nilai santri di tengah-tengah masyarakat, di antara sebagiannya adalah; mandiri, bersahaja, dan moderat. Pemaknaan santri yang telah mengalami pergeseran -sifat yang menunjukkan bagaimana seseorang mampu

Menjalankan tradisi santri- pada akhirnya memudahkan pengembangan nilai-nilai santri itu sendiri.
Kemunculan generasi strawberry di era revolusi society 5.0 tidak lepas pula mewarnai dunia santri. Tidak sedikit yang mengkhawatirkan anak-anaknya tidak mampu menjadi kelompok masyarakat yang kuat karena “terisolir” dalam beberapa waktu. Untungnya, santri merupakan sekelompok orang yang dilatih untuk menguatkan dirinya dengan nilai-nilai kemandirian. Hal ini mempengaruhi kemampuan mereka untuk berpikir, bersikap, dan bertindak, setidaknya untuk hal-hal yang terkait dengan dirinya sendiri. Sehingga, santri di tengah masyarakat bukanlah generasi yang cenderung menjadi beban sosial dan peradaban. Ketangguhan yang santri peroleh dari dalam “miniatur negara” yang bernama pesantren telah cukup sebagai bekal untuk menghindari stigma generasi strawberry.

Baca Juga:  Satgas Gabungan Akan Sidak Rumah Bernyanyi di Wajo, Sekda: Bukan Anti Hiburan, Tapi Harus Tertib

Resiliensi santri yang cukup kuat merupakan aset tersendiri bagi bangsa dan negara. Mengingat jumlah santri yang cukup besar di Indonesia, terlebih lagi dengan adanya pergeseran makna santri tadi yang memungkinkan santri berada di mana saja untuk menjadi pendakwah sekaligus transformer peradaban. Dengan resiliensi ini, santri akan mampu mengokohkan nilai-nilai jihad dalam kehidupan sehari-hari mereka, menjadi garda terdepan dalam kelompok masyarakat untuk merawat bangsa, dan merespon setiap kontestasi yang berkembang sesuai zaman, tentunya dengan berdasarkan Al-Qur’an dan hadis, serta tradisi intelektual ulama.

Baca Juga:  Pimpin Apel Pagi, Danny Instruksikan SKPD Manfaatkan Jejaring Wujudkan Pemilu Damai di Makassar

Agar memiliki risiliensi yang kuat dalam berjihad, santri setidaknya memiliki kompetensi utama, yakni; 1) kemampuan memecahkan masalah (problem solving); 2) kemampuan berpikir kritis (critical thinking); dan 3) memiliki iman dan karakter kualitas premium. Kesuksesan jihad seorang santri dalam pembangunan bangsa bisa dilihat dari kemampuannya mengkolaborasikan ruang sosial keagamaan dan ruang kebangsaan dan kenegaraan tanpa mengabaikan peran teknologi dan modernitas.(*)

Share :

Baca Juga

Sulsel

Agenda Monitoring, Bupati Takalar Tinjau Lokasi Pembangunan Kantor Kecamatan Laikang

Sulsel

Bupati Wajo Jemput Langsung Jamaah Haji di Bandara Hasanuddin

PINRANG

Bupati Pinrang: WTP Jadi Motivasi Perbaikan Keuangan Daerah

Sulsel

Baznas RI Kawal Seleksi Capim Baznas Makassar, Fokus pada Kompetensi dan Integritas

Sulsel

Kasat Lantas Polres Wajo: Pengaturan Pagi Wujud Pelayanan dan Jaminan Keselamatan Pengguna Jalan

Sulsel

Komitmen Dongkrak Kualitas Pendidikan, Bupati Takalar Sidak ke SMPN 1 Polongbangkeng Utara

Sulsel

Pemkab Soppeng Peringati Hari Lahir Pancasila Tahun 2026

SOPPENG

Bupati dan Wabup Soppeng Sambut Kedatangan Jamaah Haji Kloter 1