Selain usaha warkop, di area shelter juga terdapat usaha ketok magic, perbengkelan, serta tukar tambah ban. Semua ini merupakan lapangan kerja informal yang tidak memerlukan pendidikan tinggi, namun mampu memberikan penghasilan bagi warga.
Dalam dialognya, Kabid Haifdah Djalante menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang tinggi atas kreativitas yang telah dilakukan oleh pengurus Shelter Pa’Baeng-Baeng.
“Aktivitas ini sangat baik, dan kami berencana mengajak para pengurus shelter se-Kota Makassar untuk melakukan studi tiru di sini sebelum melanjutkan agenda rekreasi ke Bira pada Februari mendatang,” ujarnya.
Kabid juga menyinggung pengalaman sidak di berbagai shelter di Kota Makassar.
“Ada shelter yang disebut shelter keluarga, di mana ketuanya adalah suami dan bendaharanya istrinya, namun sayangnya tidak melibatkan potensi warganya.
Ada juga shelter dengan retorika hebat, tetapi laporan kasusnya nihil dan tidak memiliki sekretariat yang representatif serta administrasi yang memadai,” ungkapnya. Oleh karena itu, ia berharap Shelter Pa’Baeng-Baeng dapat menjadi inspirasi bagi shelter lainnya.
Di tengah suasana hujan, Kabid bersama Lurah dan tokoh masyarakat mengunjungi lokasi pencucian mobil, berdialog dengan operatornya, dan mengakhiri kunjungan dengan foto bersama.
Kunjungan mendadak di hari Minggu tersebut diakhiri dengan penuh kesan positif terhadap upaya pemberdayaan yang telah dilakukan oleh Shelter Pa’Baeng-Baeng.(sdn)
Editor: Manaf Rachman
















