“Penggantian meter ini menjadi tanggung jawab perusahaan, meski kami menyadari ada potensi penolakan dari pelanggan,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa pembenahan dari sisi pelayanan eksternal ini akan berjalan beriringan dengan langkah-langkah pembenahan internal, terutama dalam hal penguatan organisasi dan sumber daya manusia.
Dalam kesempatan yang sama, Plt Direktur Keuangan, Nanang Supriyatno, mengungkapkan bahwa hingga Maret 2025, perusahaan mencatatkan kerugian sekitar Rp5 miliar.
Ia menyatakan bahwa kondisi ini menjadi tantangan besar dalam memenuhi tuntutan penyediaan air bersih bagi masyarakat dan industri.
“Kami akan memperbaiki kondisi ini melalui berbagai upaya, antara lain optimalisasi SDM, pengurangan biaya operasional yang tidak efisien, serta renegosiasi sejumlah kontrak kerja sama. Belanja pegawai saat ini hampir mencapai 38%, padahal batas maksimalnya adalah 30%,” jelas Nanang.
Ia optimistis bahwa jika langkah-langkah tersebut dijalankan secara konsisten, kondisi keuangan perusahaan akan kembali stabil pada akhir tahun 2025.(jk)
Editor: Manaf Rachman
















