Kolonel Otto Sollu menyebut kehadiran timnya adalah bagian dari mekanisme kendali mutu.
“Kami ingin melihat langsung. Apakah program ini sesuai dengan target? Apakah benar dirasakan masyarakat? Evaluasi harus berpijak pada realitas di lapangan,” kata Otto
Ia menyebut TMMD harus bergerak pada dua sumbu: pembangunan fisik dan transformasi sosial. Jalan bisa dibangun cepat, tapi kesadaran kolektif masyarakat harus tumbuh bersama prosesnya.
Dari Desa, Harapan Itu Ditegakkan
Kepala Desa Temmabarang menilai program TMMD membawa perubahan yang terasa.
“Kami dulu hanya bisa berharap. Kini jalan bisa dilalui mobil, anak-anak sekolah lebih mudah berangkat. Tapi yang lebih penting, warga merasa didengar dan dilibatkan,” ujarnya.
MEDIA SINERGI.CO mencatat, Desa Temmabarang adalah satu dari empat titik prioritas TMMD di Wilayah Kodam XIV/Hasanuddin. Pemilihan lokasi didasarkan pada indikator keterisolasian, infrastruktur minim, dan tingkat partisipasi masyarakat.
Peninjauan Tim Wasev ditutup dengan dialog bersama warga dan aparat desa. Suasana informal namun hangat. Di antara tenda biru dan secangkir kopi kampung, perbincangan mengalir soal pembangunan, keterlibatan warga, dan keinginan agar program seperti TMMD tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata.
TMMD ke-124 adalah cermin: bagaimana kekuatan negara hadir di titik paling sunyi sekalipun. Di Desa Temmabarang, harapan itu sedang dibangun. Satu adukan semen, satu jengkal jalan, satu sesi penyuluhan—semuanya menuju satu tujuan: memperkuat kembali simpul-simpul kebangsaan dari pinggir negeri.(*)
















