Namun, capaian TMMD tidak semata dilihat dari bangunan fisik. Program ini juga menyentuh sisi non-fisik: penyuluhan kesehatan, edukasi pertanian, hingga sosialisasi wawasan kebangsaan. Pelibatan masyarakat yang aktif, mulai dari gotong royong hingga menerima pelatihan, memperlihatkan bahwa TMMD bukan hanya proyek TNI, tapi juga milik warga.
Hajira (61), warga yang rumahnya ikut direnovasi, menuturkan, “Saya tidak hanya bersyukur karena rumah saya diperbaiki. Tapi saya lebih bangga karena ikut bekerja bareng tentara. Kami merasa dihargai, dilibatkan.”
Dengan waktu yang tersisa, Satgas TMMD terus mengejar target akhir dengan komitmen tinggi terhadap kualitas. Prasasti yang tengah dibangun hari ini akan menjadi penutup simbolik dari sebuah perjalanan yang dimulai dengan niat membangun dari pinggiran.
Lebih dari itu, TMMD ke-124 meninggalkan warisan penting: bahwa kemajuan tidak hanya dibangun dengan dana dan alat berat, tapi dengan kemanunggalan dan semangat kolektif antara rakyat dan prajuritnya.(eddy)
Editor: Manaf Rachman
















