Sesi siang berlanjut dengan refleksi budaya dan pemaparan sejarah PERWIRA–LPMT, hingga rencana Gau Maraja La Patau Matanna Tikka berikutnya.
Arung Dg. Bundu, Tetta Kampong Trah Buluttana Tinggimoncong, menyebut:
“Ini momentum menyambung sulur-sulur adat yang lama terputus. Gau Maraja dan Tudang Sipulung harus jadi panggung kebangkitan tata nilai dan sistem adat yang merangkul generasi muda.”
Forum ini juga memuliakan entitas adat Maros seperti Todolimayya, Gallarang Appaka, hingga Kekaraengan yang teguh menjaga tradisi: Turikale, Marusu, Bontoa, Simbang, Lau, Tanralili, dan Tangkuru. Dari pesisir, hadir pula Gallarang Moncongloe, Bira, Biringkanaya, hingga Sudiang.
Sebagai penutup, forum menetapkan Gau Maraja Bone 2026 sebagai agenda budaya selanjutnya—penanda bahwa PERWIRA–LPMT siap menjadi simpul silaturahmi budaya lintas Nusantara. (Rls)
















