Home / Sulsel

Selasa, 14 Oktober 2025 - 15:16 WIB

SIAPAKAH YANG MERUSAK KEPOLISIAN REPUBLIK INDONESIA?

*1. Polisi dalam Jebakan Kekuasaan*
Dalam sistem demokrasi yang sudah lama dibajak oleh uang dan ambisi, institusi kepolisian sering dijadikan alat kekuasaan. Banyak kasus menunjukkan bagaimana hukum bisa “dipesan” melalui jaringan elite politik dan ekonomi. Polisi bukan lagi pengayom rakyat, melainkan penjaga kepentingan golongan.
Setiap kali muncul kasus besar, dari tambang ilegal, korupsi pejabat, hingga konflik politik, selalu ada bayangan bahwa siapa yang bisa membeli hukum, dialah yang menang. Ketika integritas bisa ditukar dengan amplop, lembaga sebesar Polri pun bisa direduksi menjadi biro jasa legal untuk kaum berduit.

*2. Bayangan Operasi Asing Penetrasi Halus dan Sistemik*
Bukan teori konspirasi jika dikatakan bahwa lembaga penegak hukum di banyak negara sedang diincar oleh kekuatan asing. Cara kerja mereka tidak lagi dengan senjata, melainkan dengan infiltrasi ideologis dan ekonomi.
Melalui pelatihan, kerja sama intelijen, hibah peralatan, hingga sistem keamanan siber, perlahan-lahan kontrol bisa berpindah tanpa disadari. Saat algoritma keamanan negara diatur oleh sistem asing, maka kedaulatan hukum nasional hanya tinggal slogan.
Agen-agen asing tidak perlu menyamar sebagai mata-mata, cukup menanamkan kepentingan mereka lewat proyek kerja sama atau “modernisasi kepolisian”.
Maka jangan heran bila kadang keputusan operasional, prioritas penyelidikan, atau arah kebijakan keamanan terasa tidak lagi berpihak pada rakyat, melainkan pada stabilitas yang menguntungkan kekuatan global.

Baca Juga:  Upacara HKN, Bupati dan Wabup Wajo Dorong ASN Berinovasi

*3. Politik Busuk: Polisi Dijadikan Bidak di Papan Catur Kekuasaan*

Politik praktis adalah racun paling berbahaya bagi profesionalisme polisi. Ketika jabatan bergantung pada restu kekuasaan, netralitas berubah menjadi ilusi.
Ada politikus yang memelihara hubungan istimewa dengan aparat; ada pula yang menunggangi kekuatan bersenjata untuk menekan lawan. Polisi menjadi alat untuk menangkap, menakut-nakuti, dan mengamankan proyek politik.
Dalam konteks ini, banyak perwira jujur dan idealis yang akhirnya tersingkir, karena sistem memberi ruang luas bagi mereka yang pandai menjilat, bukan bagi mereka yang setia pada konstitusi.

*4. Masyarakat yang Rusak: Polisi adalah Cermin Kita*
Namun, menuding polisi saja tak cukup. Institusi ini lahir dari rahim masyarakat yang sama. Jika rakyatnya gemar menyuap, menghalalkan kebohongan, memuja uang dan kekuasaan lebih dari kebenaran, maka polisi hanyalah refleksi dari kerusakan itu.
Seseorang bisa mengenakan seragam dan pangkat, tapi bila jiwanya dibentuk oleh budaya pragmatis dan oportunistik, maka hukum hanyalah sandiwara.
Bangsa yang kehilangan ideologi, kehilangan arah moral dan rasa malu, akan melahirkan aparat tanpa nurani. Maka, sebelum kita menunjuk siapa yang merusak kepolisian, kita perlu bertanya, apakah kita sendiri masih jujur, atau justru ikut menikmati kebusukan sistem ini?

Baca Juga:  Pemkot Makassar Gelar Gerakan Pangan Murah di Lima Titik

*5. Jalan Pulang: Reformasi Moral dan Ideologis*
Reformasi kepolisian tidak cukup dengan mengganti pimpinan atau memperbarui aturan. Yang dibutuhkan adalah revolusi moral dan ideologis.
Kepolisian harus kembali menjadi alat negara, bukan alat kekuasaan. Mereka harus dilindungi dari intervensi politik dan penetrasi asing. Tetapi yang lebih penting, masyarakat harus berhenti mengajarkan korupsi sejak di rumah, sejak di sekolah, sejak di meja negosiasi sehari-hari.
Ketika rakyat menegakkan nilai kejujuran, aparat pun akan malu untuk berkhianat.

*Penutup*
*_Polisi, Cermin Bangsa_*
Kepolisian bukan sekadar institusi; ia adalah cermin yang memantulkan moral suatu bangsa. Bila cerminnya retak, itu bukan hanya karena debu di seragam polisi, tapi juga karena kegelapan yang ada di hati bangsa ini.
Jadi, siapa yang merusak Polri? Mungkin jawabannya sederhana tapi paling pahit: kita semua — selama kita masih membiarkan kebenaran dikalahkan oleh kepentingan. (*)

Share :

Baca Juga

Sulsel

Komitmen Dongkrak Kualitas Pendidikan, Bupati Takalar Sidak ke SMPN 1 Polongbangkeng Utara

Sulsel

Pemkab Soppeng Peringati Hari Lahir Pancasila Tahun 2026

SOPPENG

Bupati dan Wabup Soppeng Sambut Kedatangan Jamaah Haji Kloter 1

Sulsel

Pimpinan DPRD Makassar Hadiri Peringatan Hari Lahir Pancasila di Lapangan Karebosi

Sulsel

Kecamatan Makassar Bersama Tim Gabungan Bersihkan Sampah di Kanal Bara-Baraya Timur

Sulsel

Makassar Virtual Run, Inovasi Pemkot Makassar Ajak Warga Olahraga Sambil Awasi Kondisi Kota

Sulsel

SK Jangan Disekolahkan, Pesan Wali Kota Saat Lantik 167 PNS Pemkot Makassar

PWI

Suwardi Thahir Ketua PWI, Dahlan Abubakar Ketua DKP