Program ini bukan sekadar legalisasi, tapi juga bentuk penghormatan terhadap martabat warga, agar setiap keluarga Makassar memiliki kepastian hukum dan pengakuan negara atas pernikahannya.
Rangkaian aksi kepedulian sosial juga turut mewarnai perayaan HUT kali ini. Di Lapangan Karebosi, ribuan warga mengikuti kegiatan sunatan massal, donor darah, dan pemasangan gigi tiruan massal yang bahkan mencatat Rekor MURI.
Semua layanan ini diberikan gratis oleh Dinas Kesehatan Kota Makassar sebagai bentuk perhatian terhadap kesehatan masyarakat.
Tak ketinggalan, Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Makassar menegaskan keseriusan Pemkot dalam memberikan perlindungan sosial bagi para pekerja melalui program Makassar Berjasa.
Lebih dari 263 ribu pekerja kini terlindungi, dengan total manfaat klaim mencapai ratusan miliar rupiah, melampaui target nasional.
Dalam aspek mitigasi bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menghadirkan inovasi baru berupa Early Warning System (EWS) banjir di tiga sungai utama Makassar.
Sistem ini pertama kali diterapkan di kota ini dan menjadi langkah strategis dalam membangun kota yang lebih tangguh terhadap risiko bencana.
Di sisi pariwisata dan ekonomi, Makassar Great Sale 2025 menggairahkan semangat belanja warga dan wisatawan.
Diskon hingga 49% di berbagai pusat perbelanjaan menghadirkan nuansa pesta ekonomi yang meriah, sekaligus ruang bagi pelaku usaha untuk berkontribusi pada pemulihan ekonomi lokal.
Sementara itu, di Anjungan Pantai Losari, suasana kebersamaan benar-benar terasa. Layanan publik gratis, hingga stand UMKM semuanya dirancang agar warga bisa merasakan langsung kehadiran pemerintah dalam suasana yang penuh kegembiraan.
Dinas-dinas pun ikut berperan, mulai dari Disdukcapil yang melayani perekaman KTP dan pencetakan dokumen, DPMPTSP dengan layanan perizinan, hingga Diskominfo yang memperkenalkan inovasi digital lewat Super Apps LONTARA+.
Seluruh rangkaian kegiatan ini menyatukan satu pesan besar,
bahwa ulang tahun Kota Makassar bukan hanya milik pemerintah, tapi milik seluruh warganya.
Bahwa pemerintah hadir bukan hanya dengan janji, tetapi dengan bukti.
Dan bahwa Makassar kini melangkah menuju masa depan dengan harmoni, inovasi, dan kebersamaan.
Selama empat abad lebih, Makassar telah menjadi saksi perubahan zaman, dari masa pelaut dan pedagang rempah hingga kini menjadi kota yang berlari cepat dalam arus modernisasi.
Setiap pemimpin datang membawa semangat baru, dan hari ini tongkat estafet itu berada di tangan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, bersama Wakil Wali Kota, Aliyah Mustika Ilham.
Dua sosok ini melanjutkan perjalanan panjang kota dengan visi yang berpijak pada pelayanan, harmoni, dan kemajuan bersama rakyat. Semangat untuk terus tumbuh, berbenah, dan berbuat untuk sesama.
Kini perjalanan kota menuju masa depan dengan semangat dan visi besar yang mereka sebut “MULIA”. Ini bukan sekadar slogan. Tapi, kompas moral dan arah pembangunan, akronim dari Makassar Unggul, Inklusif, Aman, dan Berkelanjutan.
Sebuah visi yang lahir dari kesadaran bahwa kota besar tidak hanya diukur dari gedung-gedung tinggi dan kemajuan teknologi, tapi dari kualitas hidup warganya, rasa aman di lingkungannya, serta kesempatan yang merata bagi semua.
Munafri dan Aliyah ingin menjadikan Makassar sebagai kota yang unggul dalam pendidikan, ekonomi, infrastruktur, dan pelayanan publik, sekaligus inklusif, di mana setiap warga, tanpa terkecuali, merasakan manfaat pembangunan.
Sebuah kota yang aman dan nyaman untuk tumbuh, bekerja, dan berkeluarga, serta berkelanjutan dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian lingkungan.
Dari visi besar itu, lahirlah tujuh misi utama yang menjadi panduan nyata arah pembangunan Makassar, memperkuat daya saing ekonomi, memeratakan layanan pendidikan dan kesehatan, membangun infrastruktur yang berkeadilan, mengembangkan seni dan budaya.
Selain itu, komitmen untuk menegakkan tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan, memberikan perlindungan sosial bagi kelompok rentan, serta memastikan ketertiban dan kesiapsiagaan terhadap bencana.
Namun, bagi Munafri–Aliyah, visi tidak cukup hanya ditulis diatas kertas sebagai artefak, tapi diwujudkan tindakan nyata. Karena itu, mereka menurunkan gagasan besar tersebut ke dalam program-program konkret yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat.
Mulai dari gratis seragam sekolah bagi anak didik, pembebasan iuran sampah, hingga pemasangan instalasi air bersih tanpa biaya bagi warga berpenghasilan rendah.
Di bidang olahraga dan kebanggaan daerah, Appi-Aliyah menggagas pembangunan stadion bertaraf internasional, lokasi di kawan Untia, Kecamatan Biringkanaya.
Dalam hal perlindungan sosial, hadir Program MULIA Berjasa (Berbagi Jaminan Sosial), yang menjamin kesejahteraan pekerja formal dan informal.
Sementara dalam bidang teknologi dan inovasi pelayanan publik, diluncurkan MULIA Super Apps (LONTARA+), sistem digital terpadu yang memudahkan warga mengakses berbagai layanan pemerintahan.
Tak berhenti di situ, semangat kreatif juga hidup melalui MULIA Creative Hub di setiap kecamatan, ruang kolaborasi bagi anak muda untuk berinovasi, berkreasi, dan mengembangkan potensi diri.
Semua langkah ini menegaskan satu hal bahwa, Makassar bukan hanya sedang dibangun secara fisik, tetapi juga sedang dirajut secara batin, dengan visi yang berpihak pada masyarakat, budaya, dan masa depan lebih baik.#Sejahtera Warga, MULIA Kota’ta#!! (sir)
Editor: Hamzah
















