“Kita ingin tidak ada sekat antara pemerintah dan masyarakat. Semua pemangku kepentingan harus membiasakan diri duduk bersama warga.”
Kalimat itu bukan slogan, tetapi kerangka besar dari gaya kepemimpinannya: pemerintahan yang tidak menunggu aspirasi di kantor, tetapi menjemputnya langsung di jantung kehidupan warga.
—
Manre Sipulung: Ruang Syukur, Ruang Aspirasi, Ruang Ide
Bagi Rosman, Manre Sipulung bukan sekadar forum dialog.
Ia adalah ruang syukur—tempat pemerintah dan masyarakat meneguhkan kembali hubungan batin mereka. Ia mengajak warga membiasakan salat sunnah, terutama salat duha sebelum memulai aktivitas sebagai bagian dari visi Wajo Religius.
Namun ruang syukur itu segera berubah menjadi ruang ide.
Giliran warga berbicara, keluh kesah ditumpahkan, harapan disuarakan. Dari persoalan pertanian, drainase, kesehatan, hingga ide peningkatan layanan publik. Pemerintah mencatat, menanggapi, dan berdiskusi langsung tanpa basa-basi birokratis.
Di sinilah keindahan Manre Sipulung terasa: tradisi yang bukan hanya dirayakan, tetapi dihidupkan kembali sebagai mesin peradaban lokal.
Kabar Baik dari Lahan-lahan Hijau Wajo
Dalam kesempatan itu, Bupati Rosman membagikan satu kabar yang membuat tepuk tangan mengalun siang itu:
Wajo berhasil masuk posisi ke-11 nasional dalam produksi pertanian.
Pencapaian ini menjadi bukti bahwa tangan para petani, penyuluh, dan pelaku pertanian tidak bekerja sia-sia. Andi Rosman menyebutnya sebagai “buah kerja keras para pejuang pangan”—sebuah penghormatan yang pantas bagi mereka yang setiap hari berdiri di bawah matahari yang sama dengan siang itu.
















