Oleh Laode Arumahi
MEDIASINERGI.CO
MAKASSAR – Konferensi Cabang Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi merupakan momentum 5 tahunan untuk melakukan konsolidasi organisasi.
Sebagai organisasi profesi wartawan, dalam konsolidasi organisasi tersebut minimal ada empat penguatan yg bisa dirumuskan dan diputuskan sebagai modal dasar pengurus pasca konferensi.
Keempat penguatan tersebut, pertama adalah penguatan kelembagaan, misalnya pengurus yang terpilih adalah mereka yang memiliki rasa memiliki atau sense of belonging organisasi sehingga ia mau menjaga marwah organisasi dan berusaha unggul di tengah organisasi lainnya.
Kedua, sense of responsibility atau rasa tanggung jawab. Apapun yang sudah keputusan organisasi, ia merasa menjadi tanggung jawabnya untuk melaksanakan dan menyuseskannya.
Ketiga adalah sense of participation atau rasa partisipatif, secara fisik terlibat aktif merealisasikan program kerja organisasi secara proporsional sesuai seksi atau bidangnya.
Keempat, penguatan atau konsolidasi wawasan dan skil pengurus maupun anggota.
Pengurus terpilih yang menerima amanah mesti fokus pada program pengembangan wawasan dan keterampilan melalui kegiatan seminar, pelatihan spesifik sehingga SDM PWI mampu beradaptasi tuntutan profesi wartawan.
Terakhir, penguatan etika profesi kewartawan. Betapapun kemampuan seorang wartawan tanpa ditopang dengan ketaatan kepada etika profesi, maka semua prestasi tidak akan dipandang positif oleh publik.
Semua harapan tersebut akan terwujud jika konfrensi ini berangkat dari soliditas anggota terutama yang berhak memilih memberikan amanah kepada figur pemimpin yang tepat.
“Saya percaya di PWI Sulsel memiliki banyak kader-kader terbaik dan anggota mengenal mereka. Silakah pilih sesuai hati yang bersih tanpa sekat promordial dan ego kelompok dan media tertentu. PWI adalah rumah bersama profesi wartawan,” ujar Arumahi mantan Pemred Harian Pedoman Rakyat yang kini bergabung dengan Mediasinergi.co. (arumahi)











